Senin, 11 Maret 2013

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DAN JAWABANNYA DALAM TEOLOGI PAULUS


KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DAN JAWABANNYA DALAM TEOLOGI PAULUS

I. Pendahuluan
Sebelum membahas mengenai tinjauan Alkitabiah dalam teologi Paulus tentang kekerasan dalam rumah tangga, sebaiknya kita melihat terlebih dahulu mengapa kekerasan didalam rumah tangga itu dapat terjadi. Setiap hal yang terjadi didalam keluarga pasti ada pemicunya baik itu dari segi internal maupun eksternal. Tindakan kekerasan dalam rumah tangga bukan lagi hal yang mengherankan melainkan sudah biasa ditelinga kita sebab tidak sedikit orang-orang yang mengalami hal ini.

II. Pembahasan
2.1 Apa itu kekerasan?
Dalam konteks Globalisasi, teologi membutuhkan sebuah pemikiran yang kritis terhadap kekerasan. Berbicara tentang kekerasan dari perspektif teologis tidaklah mudah. Dalam nama Allah, selain ada perdamaian, banyak juga kekerasan yang muncul. Untuk itu teologi tidak cukup sekedar menolak kekerasan begitu saja. Secara eksegetis jelas bahwa kekerasan adalah tindakan manusia yang merusak hubungna manusia dengan Allah dan menghancurkan ciptaannya. Disini, posisi teologis telah jelas. Namun apakah teologi dapat mengerti dan memahami kekerasan? Kekerasan dapat dipahami dan didefinisikan secara luas atau sangat jelas, atau sangat abstrak atau sangat konkret. C.A.J. Coady membedakan kekrasan itu kedalam tiga defenisi yaitu: wide definitions, restricted definitions, dan legitimate definitions. Wide definitions bertolak dari pemikiran bahwa kekrasan itu “ada” dalam organisasi dan dalam kontrol masyarakat. Model kekerasan ini memberikan reaksi atas ketidakadilan atau ketidaksamaan dengan masyarakat (yang diinterpretasikan sebagai kekerasan). Restricted definitions bertolak dari ide bahwa kekerasan selalu menghadirkan luka. Dimana ada luka disitu ada kekerasan. Jika tidak ada luka maka tidak ada kekerasan. Legitimate definitions bertolak dari ide bahwa kekerasan adalah akibat dari aksi yang ilegal. Aksi ini diarahkan pada negara. [1]

2.2 Faktor-faktor pendorong terjadinya KDRT
Kekerasan dalam keluarga adalah implikasi dari ideologi gender. Hubungan ats bawah yang hiearkis dalam keluarga, membuat pola hubungan itu sendiri menjadi disharmonisasi. Nilai-nilai manusiawi yang semestinya termanifestasikan dalam keluarga menjadi terkaburkan. Kekaburan inilah yang kemudian mengakibatkan berbagai akibat yang bersifat akumulatif, akut, permanen. Tanpa disadari, kalangan perempuan sendiri ikut serta dalam membangun struktur sosial itu, hingga muncul korban diskriminasi ganda.
Strauss A. Murray mengidentifikasikan hal dominasi pria dalam konteks struktur masyarakat dan keluarga, yang memungkinkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (Marital Violence) sebagai berikut :
1.      Pembelaan atas kekuasaan laki-laki
Laki-laki dianggap sebagai superioritas sumberdaya dibandingkan dengan wanita sehingga mampu mengatur dan mengendalikan wanita
2.      Diskriminasi dan pembatasan dibidang ekonomi
Diskriminasi dan pembatasan kesempatan bagi wanita untuk bekerja mengakibatkan wanita (istri) ketergantungan terhadap suami, dan ketika suami kehilangan pekerjaan maka istri mengalami tindakan kekerasan
3.      Beban pengasuhan anak
Istri yang tidak bekerja menjadikannya menanggung beban sebagai pengasuh anak. Ketika terjadi hal yan tidak diharapkan terhadap anak, maka suami akan menyalahkan istri sehingga terjadi kekerasan dalam rumah tangga
4.      Wanita sebagai anak-anak
Konsep wanita sebagai hak milik menurut hukum, mengakibatkan keleluasaan laki-laki untuk mengatur dan mengendalikan segala hak dan kewajiban wanita. Laki-laki merasa punya hak untuk melakukan kekerasan sebagai seorag bapak melakukan kekerasan terhadap anak agar menjadi tertib
5.      Orientasi peradilan pidana pada laki-laki
Posisi wanita sebagai istri didalam rumah tangga yang mengalami kekerasan oleh suaminya, diterima sebagai pelanggaran hukum, sehingga kasusnya sering ditunda atau ditutup. Alasan yang lazim dikemukakan oleh penegak hukum yaitu adanya legitimasi hukum bagi suami melakukan kekerasan sepanjang bertindak dalam konteks harmoni keluarga.[2]

2.3 Tinjauan Alkitab tentang KDRT
Untuk melihat tinjauan Alkitabiah tentang KDRT kita perlu mendaftarkan kewajiban-kewajiban setiap anggota keluarga:
·         Apa kewajiban orang tua terhadap anak-anak mereka
a)      Mengasihi dan memperdulikan mereka, khususnya kalau mereka masih kecil (Yes. 49: 15)
b)      Mendidik dan membimbing mereka didalam Firman Tuhan, prinsip keagamaan, dan memberikan petunjuk-petunuk jalan Tuhan (Ef. 6:4, Ams. 22:6, 2Tim. 3:15)
c)      Mendoakan mereka (Mzm. 101:2,3)
d)     Mengajarkan belajar menghormati, menaati orang tua mereka (Luk. 2:51, Ef. 6:1&4)
e)      Mendorong mereka (1Taw. 28:20, Ams. 19:18, 29:15,17)
f)       Menyediakan keperluan (1Tim. 5:8, 2Kor. 12:14)
g)      Siap menyerahkan kalau memang mereka sudah siap dipisahkan dalam kehidupan yang baru (Kej. 4:1,2; 1Kor. 7:36, 38)
·         Apa kewajiban anak-anak terhadap orang tua mereka
a)      Menghormati (Mal 1:6, Im 19:3)
b)      Mendengarkan (Ams 31:28, 1Raj 2:19)
c)      Rajin mendengar (Ams 4:1; 5:1)
d)     Siap (Ef 6:1, Kol 3:20)
e)      Lemah lembut dan sabar (Ibr 12:9, Ams 15:32)
f)       Siap mengikuti (Kel 18:24; Hak 14:2)
g)      Tahu berterima-kasih atas kebaikan terhadapnya (Rut 4:15, Kej 47:12, Ams 23:22)

·         Apa kewajiban istri terhadap suami
a)      Mengasihi mereka lebih dari siapapun orang di dunia (Tit 2:4)
b)      Setia dan tepat (Ibr 13:4, 1Tim 3:11)
c)      Menghormati dan takut menyinggung mereka (Ef 5:33)
d)     Tunduk (Ef 5:22,24)
e)      Peduli untuk menyenangkan mereka (1Kor 7:34)
f)       Membantu menanggung beban (Kej 2:18, Ams 31;27)
g)      Mendengarkan mereka (1Pet 3:1,2)

·         Apa kewajiban suami terhadap istri
a)      Mengasihi istri, sama seperti Yesus mengasihi jemaat (Ef 5:25)
b)      Hidup bersama dengannya (Ef 5:31, 1Pet 3:7, Ams 5:18,19)
c)      Harus lembut terhadap istri, menyiapkan dan menyediakan keperluannya (Ef 5:28,29)
d)     Setia dan benar memelihara perjanjian (Hos 3:3)
e)      Melindungi (1Sam 30:18, 1Pet 4:8)
f)       Peduli untuk menyenangkan (1Kor 7:33)
g)      Mendoakan (1Pet 3:7, Luk 1:6).[3]

2.4 Hubungan UU Penghapusan KDRT dan Tulisan Paulus (Kolose)
Bagi orang Kristen sudah terlebih dahulu mengetahui ketentuan-ketentuan tentang hidup berumah tangga yang baik dan harmonis, terlepas dari segala kekerasan, berlaku kasar, saling menaati, saling menghormati, tidak merendahkan satu terhadap yang lain, tidak ada pembedaan (diskriminasi) didalam rumah tangga. Peringatan rasul paulus dalam Kolose 3:18-25 sudah ada jauh sebelum Indonesia mengatur UU No. 23 Tahun 2004 tentang peghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Apabila kita memahami dan menaati serta melaksanakan apa yang termuat didalam Alkitab tersebut, khususnya Kol. 3:18-25, tentu tidak akan ada tindak kekerasan didalam rumah tangga. Untuk lebih memahami nasehat yang disampaikan rasul Paulus dalam kitab kolose, maka dijabarkan makna dan isi yang terkandung didalamnya:
1.   Supaya terjadi suasana saling menghormati antara suami istri dan sebaliknya, antara anak-anak dan orangtuanya yaitu ayah dan ibunya, para pembantu kepada kepala keluarga serta anggota keluarga yang lain.
2.   Supaya terjadi saling mengasihi bagi sesama anggota keluarga yaitu suami, istri, anak, hamba-hamba (pembantu rumah tangga) dan bahkan orang lain yang mungkin tinggal dan menetap didalam keluarga tersebut.
3.   Tidak memandang rendah terhadap setiap anggota keluarga atau rumah tangga baik kepala keluarga, anggota rumah tangga yang lain, istri, anak, pembantu RT, orang lain yang tinggal dan menetap didalam keluarga tersebut juga para pekerja yang tinggal bekerja pada rumah tangga tersebut.
4.   Tidak saling membedakan antara anggota keluarga (rumah tangga), tidak memandang lebih tua atau lebih muda usianya.
5.   Tidak saling melakukan kekerasan dalam bentuk apapun antara salah satu anggota rumah tangga terhadap anggota rumah tangga  lainnya.
6.   Tidak terjadi pelanggaran hak asasi yang dilakukan oleh anggota rumah tangga yang satu terhadap anggota rumah tangga yang lainnya.
7.   Yang sangat penting adalah apapun yang diperbuat/dilakukan oleh setiap anggota rumah tangga harus dengan segenap hati untuk Tuhan.
Sebagaimana disebutkan didalam UU KDRT (UU No. 23 Tahun 2004) yang dilengkapi dengan sanksi-sanksi hukum, maka didalam nasehat yang disampaikan oleh rasul Paulus juga mengandung sanksi yang tegas dan termuat didalam Kol. 3:25 yaitu “Barangsiapa berbuat kesalahan tersebut akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang”. Bunyi ayat yang sekaligus sanksi ini dapat diambil maknanya antara lain sebagai berikut :
-     Kata menanggung kesalahannya berarti menanggung akibat dari perbuatannya yang salah dan akan mendapat sanksi hukuman.
-     Kata Tuhan tidak memandang orang berarti; Sebenarnya Tuhan adalah Maha Kasih, Maha Adil, dalam hal ini Tuhan tidak membeda-bedakan umatNya, tidak ada diskriminasi didalam Tuhan. Semua yang melakukan kesalahan akan menerima ganjaran yang sama sesuai perbuatannya.
Apabila kita bandingkan dengan ketentuan-ketentuan yang dimuat didalam UU No. 23 Tahun 2004 terhadap Penghapusan KDRT ternyata nasehat dan ketentuan yang disampaikan Rasul Paulus dalam Kolose 3:18-25 jauh lebih lengkap dan padat serta lebih luas jangkauannya dan berlaku ribuan tahun lamanya. uraian mengenai KDRT dari dua buah peraturan yang dibuat dan ditujukan kepada manusia dalam kehidupan rumah tangganya, Peraturan Perundang-undangan yang diberlakukan di wilayah negara RI (UU No. 23 Tahun 2004) dan ketentuan (nasehat) yang dimuat didalam Alkitab (khususnya Kolose 3:18-25) berkaitan erat dengan kehidupan rumah tangga berdasar iman Kristen.[4]

2.5 Jawaban KDRT dalam Tulisan Paulus (Efesus)
Kekerasan dalam keluarga mencakup penganiayaan fisik, emosional, dan seksual pada anak-anak, pengabaian anak-anak, pemukulan pasangan, pemerkosaan terhadap istri/suami, dan penganiayaan lansia. Dalam kekerasan keluarga, keluarga yang normalnya merupakan tempat yang aman dan anggotanya merasa dicintai dan terlindung, dapat menjadi tempat yang paling berbahaya bagi korban. [5]
Kekerasan bukanlah gaya hidup dan cara menyelesaikan masalah dalam keluarga yang berdasrkan firman Tuhan. Setiap bentuk dan ekspresi yang sekalipun bertujuan baik, bila dilakukan dengna jalan kekerasan adalah melawan kehendak Tuhan. “Tuhan menguji orang benar dan orang fasik, dan ia membenci orang yang mencintai kekerasan” (Mzm. 11:5). Rumah tangga merupakan tempat pembelajaran dalam membangun relasi hubungan interpersonal. Paulus menyampaikan dua dasar kehidupan orang Kristen, yaitu mereka menjadi manusia baru (Ef. 4:17-32), dan mereka hidup sebagai anak-anak terang (Ef. 5:1-21). Semakin baik kualitas relasi diantara suami dengan istri, semakin menunjukkan kualitas hubungan dalam rumah tangga tersebut. Hubungna relasi diantara suami istri inilah yang dikatakan Paulus kepada jemaat efesus, “Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri seperti Kristus adalah kepala jemaat” (Ef. 5:22-23). Paulus menegaskan bahwa kehidupan sebagai manusia baru adalah kehidupan didalam terang Kristus (Ef. 5:8). Hidup sebagai anak-anak terang dikuasai oleh Roh dan pikiran Kristus menjadikan seseorang mampu menaklukkan diri dibawah kehendak Kristus. Paulus menjelaskan bentuk hubungan perkawinan menggunakan pola hierarki. Hal ini karena latar belakang budaya yahudi, dimana budaya patriarki masih sangat mempengaruhi pemikirannya “rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain didalam takut akan Kristus” (EF. 5:21). Paulus menekankan soal ketaatan yang mengandung unsur rasa hormat bagi posisi yang dituakan dalam Efesus 6:1-9. Sebuah ketaatan dan rasa hormat yang bersumber dari ketulusan. Setiap anggota keluarga perlu mengembangkan sikap ketaatan dan kasih yang menjadi cara berelasi antara suami dan istri. Menurut Paulus hal ini tidak mungkin terjadi sikap arogan: semena-mena, melecehkan, meremehkan, dan tidak menjadi teladan dal;am hubungna rumah tangga. [6]
Allah Bapa dapat sungguh-sungguh dipertimbangkan sebagai partner dalam kesatuan pasangan suami-istri Kristiani, karena Dialah yang memberkati atau menyucikan serta memberikan kekuatan terus-menerus kepada ikatan perkawinan mereka. Pasangan suami-istri tahu bahwa Allahlah yang menginginkan persatuan mereka, mendirikannya pada cintanya yang tanpa batas dan kesetian-Nya yang kekal, dan melindungiNya melawan segala resiko kesalahpahaman dan perpecahan. Dalam satu dunia yang ditandai dengan kekacauan atau ketidakteraturan dan kekerasan, maka stabilitas seperti itu didalam keluarga Kristiani merupakan aset yang sangat berharga. Keluarga Kristiani diperbaharui terus menerus oleh doa kepada Bapa atas semua anugrahnya, menyinari damai dan kegembiraan kepada semua orang disekitarnya. Kegembiraan seperti itu yang sungguh-sungguh dilandaskan pada iman akan kebangkitan membantu kita untuk membebaskan diri dari diri kita sendiri, dari kecemasan-kecemasan serta kesulitan-kesulitan, dari dunia dosa yang merupakan sumber kesedihan, serta memberikan kebahagiaan sejati didalam keluarga itu.[7]
Kasih adalah obat yang paling ampuh untuk mengatasi semua penyakit perkawinan. Kasih adalah anti perceraian, anti perengkaran, anti pemgkhianatan, anti egoisme, dan lain-lain. Dalam kasih juga sang suami menjalankan fungsinya sebagai kepala rumah tangga, dia menjadi mitra ynag sepadan dan harmonis terhadap sang istri. Dalam kasih yang sama sang istri dapat tunduk kepada suaminya, seperti tunduk kepada Tuhan. Hal ini bukanlah hal yang memberatkan istri, karena kasih yang sejati telah ada padanya (Band. 1Ptr. 3:1; Kol. 3:18).[8]

III. Kesimpulan
Tindak kekerasan sangat jelas sekali bertentangan dengan kekristenan, apalagi bila hal tersebut terjadi didalam sebuah mahligai rumah tangga. Rumah tangga ataupun suatu keluarga adalah sesuatu yang dibentuk dan diprakarsai oleh Allah bahkan yang mempersatukan manusia didalam mahligai rumah tangga (perkawinan). Tidak ada satu pun aspek pandangan dalam Alkitab bahkan secara khusus dalam teologi Paulus yang menyetujui tentang tindak kekerasan dalam rumah tangga. Tuhan adalah kepala dari rumah tangga itu dan juga dasar membangunnya oleh sebab itu juga apapun yang terjadi didalam rumah tangga itu harus seturut dan sesuai dengan kehendak Tuhan. Paulus mengatakan dalam tulisannya bahwa kasih adalah cara yang paling ampuh dalam menyelesaikan setiap permasalahan, termasuk juga didalamnya masalah rumah tangga. Kekerasan bukanlah jalan menyelesaikan permasalahan tetapi hal itu akan menambah masalah.

IV. Daftar Pustaka
Eminyan, Maurice, Teologi Keluarga, Yogyakarta: Kanisius, 2001.
Garcia, Abdece, Tinjauan Alkitabiah tentang Tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Jakarta : Gramedia, 2008.
Munthe, A., Tema-Tema Perjanjian Baru, Jakarta: BPK-GM, 2006.
Murniati, Nunuk P., Getar Gender, Magelang : IndonesiaTera, 2004.
Sahara, Theo, KDRT Menurut Firman Tuhan, Bandung: Jurnal Info Media, 2009.
Vanliers, Lucien, Memutus Rantai Kekerasan, Jakarta: BPK-GM, 2010.
Vedebek, Sheila J., Keperawatan Jiwa, Jakarta: EGC, 2008.
Wijaya, Mehamat, wawancara, pada jumat 14 Oktober 2011


[1] Lucien Vanliers, Memutus Rantai Kekerasan, Jakarta: BPK-GM, 2010, Hlm. 45-46
[2] Nunuk P. Murniati, Getar Gender, Magelang : IndonesiaTera, 2004, Hlm. 225-226
[3] Abdece Garcia, Tinjauan Alkitabiah tentang Tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Jakarta : Gramedia, 2008, Hlm. 24-25
[4] Mehamat Wijaya, wawancara, pada jumat 14 Oktober 2011
[5] Sheila J. Vedebek, Keperawatan Jiwa, Jakarta: EGC, 2008, Hlm. 274
[6] Theo Sahara, KDRT Menurut Firman Tuhan, Bandung: Jurnal Info Media, 2009, Hlm. 45-48
[7] Maurice Eminyan, Teologi Keluarga, Yogyakarta: Kanisius, 2001, Hlm. 198-199
[8] A. Munthe, Tema-Tema Perjanjian Baru, Jakarta: BPK-GM, 2006, Hlm. 91

Tidak ada komentar:

Posting Komentar