PENGHIBURAN UNTUK KELUARGA YANG
DITINGGALKAN OLEH ORANG TERKASIH
Dari Dukacita
Menjadi Sukacita
Mungkin
banyak orang merasa ketika ada orang yang sangat kita kasihi, seperti orangtua
atau anak, meninggalkan kita melalui kematian, pasti akan merasa sangat sedih.
Apakah karena kematian orang yang kita kasihi sehingga kita merasa sedih yang
sangat mendalam?. Sebenarnya banyak orang merasa sedih bukan karena kematian
tersebut, melainkan perpisahan dimana kita tidak akan bisa berjumpa dengan
orang yang kita kasihi tersebut. Contoh: seorang anak dimana mulai lahir sampai
berkeluarga, selalu bisa berjumpa dengan orangtua yang dikasihi. Oleh karena
kematian orangtua akhirnya tidak bisa berjumpa lagi. Sesungguhnya hal ini
sangat manusiawi. Namun apakah kita hanya larut dalam kesedihan tersebut, dan
hanya melihat kematian orang terkasih hanya sebuah kerugian bagi kita?
Sebenarnya tidak, dukacita yang kita alami bisa menjadi sukacita bagi kita
semua, menurut Firman Tuhan. Wah, bagaimana mungkin dukacita menjadi sukacita?.
Pasti kita akan disalahkan bila kematian orang yang kita kasihi merupakan
sukacita bagi kita yang ditinggalkannya.
Firman
Tuhan dalam Filipi 1:21 “Karena bagiku
hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”. Mati adalah keuntungan?
Tidak mungkin. Semua orang pasti takut mati, itu kerugian bagi kita yang hidup.
Walaupun kita tahu bahwa semua orang yang hidup suatu saat nanti akan mati,
tetap saja kematian itu adalah kerugian. Kematian pasti akan membawa dukacita
yang sangat mendalam. Sehingga tidak pernah ada orang membuat papan bunga
dengan isi: “Turut bersukacita atas
meninggalnya…”. Tapi bagi kita orang yang beriman sangat mungkin dukacita
menjadi sukacita, atau bahasa lebih baiknya: “dukacita yang sementara menjadi sukacita yang abadi”. Bagi kita orang percaya, kita sadari bahwa “upah dosa ada maut” tapi kita juga
jangan lupa, ada kalimat lanjutan dari ayat diatas yaitu “tetapi
karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma
6:23). Yang dahulu kita adalah hamba dosa (Rm. 6:20) tapi sekarang melalui
kematian Tuhan Yesus dan kebangkitanNya kita sekarang sudah dilepaskan dari
dosa dan maut telah ditaklukkanNya. Oleh karena itu kita percaya bahwa “Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap
dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan
bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi
dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus” (Rm. 6:10-11).
Inilah keuntungan kita sekarang. Kematiaan adalah proses menuju kehidupan yang
baru dan “Berharga di mata TUHAN kematian
semua orang yang dikasihi-Nya” (Msm. 116:15).
Sehingga dengan ini, untuk keluarga yang
ditinggalkan oleh orang terkasih, ada kabar sukacita juga dibalik kematian,
bahwa ada kepastian untuk kita akan kehidupan yang baru, dimana kita akan hidup
bersama dengan Tuhan Yesus Kristus. Tugas kita saat ini adalah merelakan dan
terus bertekun di dalam doa (Rm. 12:12) dan tetap menjalani kehidupan dengan
teguh dan penuh pengharapan dalam pekerjaan dan perkataan yang baik (2 Tes. 2:15-17).
Wahyu
14:13 Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan:
"Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang
ini." "Sungguh," kata Roh, "supaya mereka boleh beristirahat
dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka."
Chrisnov
Mulyanta Tarigan’s
GBKP Bumi
Anggrek - Klasis Jakarta-Bandung