Sabtu, 21 Februari 2015

Arti dan Makna Kekudusan Menurut PL dalam Kaitannya dengan Pola Hidup yang Bersih bagi umat Kristen


KEKUDUSAN
(Arti dan Makna Kekudusan Menurut PL dalam Kaitannya dengan Pola Hidup yang Bersih bagi umat Kristen)
Oleh : Chrisnov M. Tarigan Sibero, S.Th

I. Pendahuluan
Kata kudus atau kekudusan sangat sering dipakai dalam Alkitab, demikian juga dalam Perjanjian Lama. Salah satu ayat yang sangat popular yaitu “Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus” (Im. 19:2b). Banyak orang memahami bahwa kekudusan dengan sederhana adalah “dipisahkan” atau “dikhususkan”; kita dipisahkan atau dikhsuskan Allah menjadi umat pilihan-Nya. Dengan melihat pemahaman yang masih sederhana ini, apakah kekudusan dalam PL juga memiliki hubungan dengan pola hidup yang bersih? Apakah merupakan sebuah keharusan bagi kita untuk menjaga pola hidup bersih? Dan seperti apakah pola hidup bersih yang dimaksudkan?.

II. Pembahasan
2.1. Pengertian Kudus (Kekudusan) Dalam Perjanjian Lama
Kekudusan dalam istilah Ibrani disebut qadosi yang artinya terpisah, dikhususkan, terpotong dari, dilepaskan seseorang atau benda, dan dikhususkan bagi Tuhan supaya Tuhan dapat memakainya.[1] Kadang-kadang qadosi dan qodesi diartikan dengan suci, kalaupun perbedaan antara kudus dan suci tidaklah gamblang, karena kudus mengacu kepada kualitas hakiki Tuhan dan manusia sedangkan suci mengacu kepada setiap yang menjurus kepada kekudusan.[2]
Pengertian kudus yang berarti dipisahkan mencakup dua hal yakni, dipisahkan dari hal-hal duniawi yang bertentangan dengan kehendak Allah, dan dikhususkan menjadi milik sang pembebas yaitu Allah (Im. 19:2).[3] Kudus (qados), sejak semula diarahkan untuk bidang keagamaan, misalnya: sebidang tanah, sebuah bangunan, peralatan dalam tempat ibadah, bahkan seekor kuda juga dapat dianggap kudus sejauh itu semua dikhususkan untuk maksud keagamaan dan peribadatan.[4] Namun perasaan mengenai kuasa mengagumkan yang terdapat dalam benda-benda kudus ini tidak boleh disamakan dengan nilai-nilai moral dan etis. Kudus atau kekudusan merupakan suatu sifat orang atau sesuatu yang sepenuhnya sesuai dengan tujuan atau maksud keberadaannya yang bulat dan utuh. Sebenarnya hanya Allah yang kudus, Ia adalah misteri yang menggetarkan dan menakjubkan. Ia sama sekali berbeda dengan manusia karena maha kudus (Yes 6:3,5) sekaligus merupakan sumber kesempurnaan rohani dan moral. Dalam perjanjian Lama yang termasuk ke dalam hukum kesucian (Imamat 17-26) sehingga ini menjadi pegangan sekaligus menjadi ajakan bagi orang-orang Israel untuk menjadi Kudus, karena Allah mereka adalah Allah yang kudus (Im 19:2, 20:26). Selain benda, tempat upacara, kitab suci, hukum dan perjanjian juga dapat disebut kudus sejauh dikuduskan dan disucikan bagi Allah.[5]
Tempat ibadah dikuduskan karena dianggap suci dan keramat. Alat-alat disana juga disebut kudus, misalnya: piring, mangkuk, bejana, meja, dan itu semua dianggap kudus dalam Perjanjian Lama karena itu berhubungan dengan ritual menyembah Tuhan. Bagi bangsa Mesopotamia kata kudus dipakai untuk julukan dewa (allah kesuburan) dan itu sangat penting dalam kehidupan Mesopotamia.[6] Bagian tubuh juga disebut kudus, yakni: tangan yang kudus, hati yang kudus. Bagian tubuh Allah dianggap kudus karena berbeda dan tubuh makhluk hidup dan memiliki rasa kehormatan. Imam juga disebut kudus karena ia mengambil bagian dalam bidang ke-Tuhanan. Imam juga disebut kudus karena mereka bernyanyi dengan keramat, suci dan kudus, ditempat yang kudus.[7]
Penjelasan lain mengatakan bahwa akar kata קדש qados kemungkinan tidak berasal dari Ibrani tetapi dari tradisi Kanaan yang kemudian diambil alih oleh agama-agama sekitar. Sedangkan dalam bahasa Ibrani asli, kata yang dekat dengan kudus yaitu kata חרם (haram) artinya “dari apa yang dilarang”. [8]
Ada beberapa istilah Kekudusan Dalam Perjanjian Lama, yakni:
a). Kudus atau kekudusan dalam bentuk kata sifat yaitu קָדַשּ atau קֹדֶש
Artinya suatu peralihan kepada fakta-fakta keagungan atau kekudusan. Kudus mengandung arti tentang lingkaran suci/keramat, terang dan terpisah dari hal yang kotor.[9] Qodes merupakan suatu kualitas yang digunakan untuk Tuhan atau memuji Tuhan, contoh: hari yang kudus yaitu sabat (Yes. 53:13), kata ini terdapat 469 kali dalam PL. Qados menyangkut tentang pribadi yang kudus, pikiran, tempat, atau waktu yang diabdikan untuk Tuhan dan terdapat sebanyak 127 kali dalam PL.[10] Qados ini juga mengacu kepada pribadi Tuhan (Kel. 15:11) baik roh-Nya, nama-Nya, perbuatan-Nya (Yes. 52:10), jalan-Nya (Mzm. 77:1), juga mengacu kepada manusia, imam (Im. 21:6), objek persembahan (Kel. 29:33) dan persembahan (Kel. 28:38).[11]
Seperti, Gelar hanya Israel yang kudus, ini menggambarkan supremasi Allah yang melebihi kesetiaan dan juga kesempurnaan moral (Yes. 30:12). Hanya “Israel yang kudus” ini merupakan kepercayaan masyarakat terhadap perjuangan Israel ketika Allah memberikan peradilan dalam peperangan umatNya karena hanya Allah yang kudus. Orang yang penuh dosa, kesalahan, memandang rendah terhadap Israel yang kudus (Yes. 1:4, 30:5), oleh karena itu Dia menegur ciptaanNya Israel yang kudus itu dan menebus Israel keluar dari tanah perbudakan.[12]
            b). Kudus atau kekudusan dalam bentuk kata kerja yaitu קִדַּש (menguduskan)
Dalam hal ini Allah yang menjadi subjeknya dan terdapat sebanyak 12 kali dalam PL dimana Allah menunjukkan kekudusan diri-Nya di dalam Israel dan dalam dunia orang kafir (diluar Israel). Allah menunjukkan kekudusan-Nya sebagai hakim (Im. 10:3; Bil. 20:13) dan memperlihatkan janji-Nya (Yes.5:6), serta memindahkan status umat dengan membersihkan mereka dari hal-hal yang kotor. Allah membuat mereka berkembang ke seluruh dunia, dan Dia akan menunjukkan diri-Nya kepada mereka, kepada semua suku bangsa bahwa hanya Dia yang kudus, sehingga bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Dia adalah Allah.[13]
Bangsa-bangsa akan mengetahui Tuhan itu adalah Allah yang kudus. Untuk membawa perseorangan kepada tempat yang kudus, subjeknya mungkin Allah atau manusia. Allah Israel adalah kudus (Kel. 31:13), Ia memulihkan Israel menjadi kudus (Ezek. 20:12 ), mengkuduskan namaNya yang sudah kotor di tengah bangsa-bangsa (Ezek. 36:23). Dalam Kej. 2:3 dikatakan bahwa sabat adalah kudus, Musa (Kel. 19:10), Jos. 7:13, Ay. 1:5, dan 1 Sam. 16:5, menguduskan suatu bangsa atau individu. Salomo juga menguduskan pertengahan pelataran yang di depan rumah Tuhan (1 Rj. 8:64).[14]
Harun dan anak-anaknya diminta dalam proses menguduskan, yang mana mereka membawakan pakaian yang kudus, memberi perminyakan yang kudus, menobatkan dan memakan persembahan (Kel. 28:3, 41, 29:1, 33, 30:30). Manusia juga bisa menjadi subjek dalam proses menguduskan diri yang disebut dengan istilah hitqaddesy (הִתקּש) yang artinya menguduskan diri (Kel. 19:22), terdapat24 x dalam PL, Ini memasuki kepada suatu tempat kudus yang sudah melewati kesalehan. Perlindungan seseorang terhadap dirinya, ketika dia sudah mengeluarkan hidupnya dari komunitas yang tidak bersih atau ketika dia datang untuk bersekutu dengan Allah. Betseba membersihkan dirinya dari yang tidak bersih sebelum Daud tidur dengannya (2 Sam. 11:4). Imam sudah melindungi diri mereka ketika mereka mendekati Allah untuk melekukan tugas peribadatan (Kel. 19:22, 1 Kro. 15:12).
Kata kerja kudus ini merupakan pengabdian, bukan dengan implikasi ibadah sementara, tapi memindahkan kepada posisi kesalehan, yang mana pengabdian seseorang bukan untuk yang bersifat exklusive. Fokus dari proses pengabdian ini merupakan perbuatan untuk menghormati kekudusan Allah (Bil 20:12) yang dipisahkan untuk maksut keTuhanan.[15]

2.2. Pengertian Kudus (Kekudusan) dalam Perjanjian Baru
Dalam pengertian yang sama dengan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani (hagios) diartikan dengan memisahkan dan menjadikan milik Allah. Istilah ini juga menyatakan bahwa Allah adalah satu-satunya yang kudus (Hos. 11:9, Yoh. 17:11). Namanya harus dikuduskan dalam arti Allah itu harus diakui sebagai Allah semua manusia (Yes. 6:3; Mat. 6:9). Selain itu istilah hagios ini adalah juga menunjukkan sikap kesetiaan manusia terhadap Allah atau keserasian dunia ciptaan dengan hukum ilahi.[16]
Ada beberapa Istilah kudus dalam Perjanjian Baru, yakni:
a. άγίός yang artinya kudus, yang ditahbiskan (kemah suci), bait suci, ruang suci atau ruang maha suci.[17]άγίός mempunyai konsep yang sama dengan qados, dan merupakan konsep kultus .Hal ini diindikasikan dengan kesucian / kesetiaan dan kekuatan untuk pendekatan kepada Ilahi. Hagios tidak digunakan untuk relasi manusia dalam hubungan kultus, tapi sejumblah besar peristiwa hagios digunakan pada pribadi dan sangat penting dalam hubungan dengan Tuhan (Yoh. 17:11, 1 Pet. 1:15).[18] Hagios mempunyai dasar pemikiran yang sama mengenai keterpisahan dan kesucian terhadap Allah. Kata maha kudus dalam Kis. 2:27 dan kata kudus dalam Why. 15:4 adalah terjemahan dari kata Yunani hagios (di tempat lain diterjemahkan suci / saleh), yaitu hubungan yang benar dengan Allah, mungkin juga dalam pengertian kekasih.[19]
            b. άγίαςω yang artinya menguduskan, mengasingkan, septuaginta menerjemahkan dengan upacara pendamaian / penebusan (Kel. 29:33, 36). Pengudusan dapat dicapai dengan praktek kultus (Kel. 19:20, Ul. 5:12), dengan satu subjek dan objek Ilahi. Hal ini juga dapat dianggap menyangkut penyataan (Kej. 2:3, Kel 19:23).[20] Subjeknya adalah pribadi, apakah Allah, hakim, bangsa atau umat, tapi Allah jarang sebagai objek. Objek tersebut kebanyakan Imam, bangsa, tempat kudus serta bejana yang kudus. Melalui pengudusan mereka dipisahkan dari sifat duniawi dan najis.
c. άγίασνος yang artinya pengudusan (menguduskan). Menguduskan disini lebih baik dari peristiwa pengudusan, karena tindakan menguduskan hanya dapat dilakukan oleh seorang yang kudus. Tindakan menguduskan diri itu selalu dikerjakan atas dasar status pengudusan yang dicapai dalam pendamaian (band Why. 22:11).[21]
d. άγίοσυνη yaitu suatu keadaan kudus, sifat pengudusan / kekudusan yang lebih dari pada tindakan menguduskan dan merupakan suatu kualitas yang lebih dari pada suatu status. Dalam Perjanjian Baru hanya Paulus yang memakai kata tersebut (Im. 1:4, 14, 2 Kor. 7:11, 1 Tes. 3:13).
e. άγίοτης artinya sifat yang kudus, pengudusan, hanya terdapat dalam Ibr. 12:10.[22]
f.  άγίοί artinya sifat yang kudus. Kata ini juga dipakai sebagai petunjuk rasuli bagi orang-orang kudus. Arti utamanya adalah hubungan dengan pribadi, menggambarkan sifat, terutama sifat seperti Kristus. Dimana-mana dalam PB ditekankan arti kekudusan secara etis, bertentangan dengan hal-hal yang kotor. Kekudusan juga merupakan panggilan tertinggi bagi orang Kristen dan tujuan dari pada hidupnya.

2.3. Kekudusan Allah dalam Perjanjian Lama
Kudus menggambarkan transendensi Allah. Yahweh, kerena kekudusan-Nya berdiri bertentangan dengan ilah-ilah (Kel. 15:11) demikian juga dengan seluruh ciptaan (Yes. 40:25). Istilah kekudusan juga menunjuk kepada hubungan, dan mengandung arti ketentuan Allah untuk memelihara kedudukan-Nya sendiri terhadap makhluk-mahkluk bebas lainnya. Itu adalah pengesahan Allah sendiri, ‘sifat dalam nama Yahweh menjadikan diri-Nya sendiri ukuran mutlak bagi diri-Nya sendiri’.[23] Sifat Allah yang paling khas dalam PL adalah kekudusan-Nya. Walaupun bangsa-bangsa, benda-benda, dan tempat-tempat disebut kudus, tetapi ini hanyalah dalam arti “dikhususkan bagi Allah”; sebenarnya hanya Allahlah yang kudus. Kekudusan itu berarti bahwa Dia betul-betul murni dalam sikap dan pikiran. [24]
Ketika makna kudus ini dikaitkan dengan “pemisahan”, maka bila konsep ini dipakai tentang Allah sendiri, ada dua hal dampaknya: Pertama, Allah terlepas dari oknum-oknum lain; hanyalah Dialah Allah. Dalam pengertian ini, kekudusan Allah mirip dengan kemuliaan-Nya. Hal ini diungkapkan dalam penglihatan Yesaya: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya” (Yes. 6:3). Kedua, yang dimaksud dengan kekudusan Allah dalam pengertian etis adalah pemisahan diri-Nya dari segala sesuatu yang menentang dan melawan Dia. Inilah dasar semua perbedaan moral. Yang baik adalah yang dikehendaki Allah; yang jahat adalah yang menentang dan melawan kehendak-Nya.[25] Allah yang kudus senang kepada kabaikan dan kebenaran serta membenci yang segala yang jahat. Benda-benda dan tempat dikatakan kudus bukan karena tempat tersebut menakutkan tetapi karena Allah sendiri hadir dalam tempat terebut dan kehadiran Allah berhubungan dengan tempat tersebut. [26]

2.4. Kekudusan Allah  dalam hubungan dengan umat-Nya
Kekudusan Allah sangat berhubungan dengan umat yang dipilihNya. Pemilihan/ perjanjian adalah ungkapan unik tentang kekudusan Allah. Karena Allah kudus maka Allah juga menuntut umat-Nya untuk hidup kudus (Im. 11:44).[27]Allah menunjukkan kekudusanNya dalam tindakan-tindakanNya demi keselamatan umat yang sudah dipilihNya (Bil. 20:13). Dengan alasan ini maka Allah disebut sebagai yang kudus Israel, karena Israel dikuduskan bagi Allah. Allah yang kudus bagi Israel terdapat 30 x dalam kitab Yesaya, Maz. 71:22, Yer. 50:29, dsb. Allah yang kudus merupakan pernyataan dalam sejarah Israel untuk menebus perbuatan-perbuatan dari AnugrahNya dan menembus kekerasan pengadilanNya.[28]
Dalam Amos 4:2 di sana dikatakan “Tuhan Allah bersumpah demi kekudusan-Nya” itu berarti Allah mengangkat sumpah yang paling berat yakni bersumpah demi hakekat-Nya sendiri.[29] Kata benda dari kudus juga mengacu kepada Roh Allah dan RohNya juga mengacu kepada umatNya selama keluaran. Allah membentuk Israel melalui duka cita mereka ketika mereka memberontak Allah yang kudus, yang datang dengan segala kesempurnaan dan melebihi dari segalanya. Kekudusan bukan melekat pada ciptaan, tapi datang dari inisiatif Allah sendiri. Waktu dunia dikuduskan dalam pengertian terang dipisahkan dari gelap. Allah yang kudus terbebas dari moral yang tidak sempurna dan kelemahan manusia. Allah yang kudus pada hakekatnya memanggil umat-Nya juga untuk menjadi kudus. Allah tidak hanya melambangkan ketuhanan, tapi Allah itu terbebas dari dosa.[30]
Para nabi memproklamirkan kekudusan sebagai penyataan sendiri oleh Allah, kesaksian yang Ia terapkan pada diri-Nya sendiri dan segi yang Ia kehendaki supaya makhluk ciptaan-Nya mengenal Dia demikian. Para nabi menyatakan bahwa Allah menghendaki untuk mengkomunikasikan kekudusan-Nya kepada makhluk ciptaan-Nya dan sebaliknya Ia menuntut kesucian dari mereka. Seperti bangsa Israel, dengan hubungannya dengan Allah, menjadikan Israel satu bangsa yang kudus, dan dalam pengertian ini mengacu kepada pengungkapan tertinggi hubungan perjanjian Israel dengan Allah. Dengan pengungkapan kekudusan yang diberikan Allah, menyatakan supaya mereka dapat menjadi orang yang mengambil bagian dalam kekudusan-Nya.[31]
Demikianlah kekudusan Allah menunjukkan kelainan Allah daripada manusia. Akan tetapi pengertian kudus ini tidak pernah dipisahkan daripada hubungan Allah dengan umat-Nya. Justru di dalam hubungan Allah dengan umat-Nya itulah Allah tampak sebagai Yang Kudus, yang tidak dapat bersekutu dengan dosa.[32]

2.4.1. Kekudusan Allah dan Bangsa Israel
Allah yang kudus memilih bangsa Israel sehingga Ia mengkhususkan bangsa tersebut dari yang lain. Bukan karena bangsa lain kurang kudus, atau tidak kudus, melainkan agar Israel mengembangkan, menjaga dan menampilkan kekudusan-Nya secara khusus. Israel sendiri dengan demikian juga terus-menerus dikuduskan dalam hubungan istimewa tersebut.[33] Dalam kitab Yesaya, Allah sering disebutkan “Yang Mahakudus, Allah Israel” (5:19; 30:12; 43:3; 55:5) yang menghendaki agar Israel mengubah sikapnya dan mengikuti tabiat Allah yang diam di tengah-tengah mereka (12:6).[34] Tidak mengherankan juga kalau kitab Imamat mempunyai tema, “Sebagai umat perjanjian, Israel harus hidup sebagai bangsa yang kudus, karena Allah adalah kudus”.[35] Karena itu, umat Israel menjadi kudus dan mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Dan itulah yang harus diwujudkan dalam hidup sehari-hari. Kekudusan Allah harus tercermin dalam tata hidup umat-Nya, baik dalam kehidupan para imam, pemimpin umat, maupun dalam kehidupan umat pada umumnya.[36]

2.4.2. Kekudusan “Dipisahkan dari Untuk Allah”
Dipisahkan untuk Allah mensyaratkan adanya pemisahan diri dari kecemaran. Pada umumnya, dipisahkan untuk Allah mengandung gagasan positif dipersembahkan atau dikhususkan untuk Allah. Dengan pengertian semacam ini, kemah sembahyang dan bait suci dikuduskan dengan semua perabotan yang ada didalamnya (Kel. 40:10, 11: Bil. 7:1; II Taw. 7:16). Seseorang dapat menyucikan rumahnya atau sebagian dari ladangnya (Im. 27:14-16). Allah menguduskan semua anak sulung  bangsa Israel untuk diri-Nya sendiri (Kel. 13:2; Bil. 3:13). Bapa menguduskan Anak (Yoh. 10:36) dan Anak  menguduskan diri-Nya sendiri (Yoh. 17:19). Orang-orang Kristen dikuduskan ketika mereka bertobat (1 Kor. 1:2; 1 Petrus 1:2; Ibr. 10:14). Yeremia dikuduskan sebelum ia lahir (Yer. 1:5), dan Paulus berbicara soal dirinya yang sudah dipisahkan untuk Allah ketika masih dalam kandungan ibunya (Gal. 1:15).[37]
Kekudusan Allah menuntut kekudusan umat-Nya, artinya: umat Allah, yang adalah sekutu Allah, juga harus hidup terpisah daripada segala dosa, dan mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Allah (Im. 19:2; 1 Ptr. 1:16). Tanpa hidup yang kudus, tidak mungkin ada persekutuan dengan Allah yang kudus.[38]

2.4.3. Kekudusan “Dikhususkan untuk Allah”
Dikhususkan untuk Allah dapat dipahami dengan umat Israel, yang telah dibebaskan dari perbudakan di Mesir, dikhususkan menjadi milik Sang Pembebas, yaitu Allah (Im. 20:29). Mereka harus hidup sesuai dengan kebiasaan baru yang terikat pada kehendak Allah yang kudus itu (Im. 19:2). Sanksi dari Allah adalah antara “patuh” dan “tidak patuh”. Patuh berarti memperoleh berkat, damai sejahtera, dan kemakmuran (Im. 26:1-13). Tidak patuh berakibat fatal, malapetaka, penyakit (Im. 26:14-15).[39]

2.4.4. Hukum Kekudusan
Imamat 17-26, bisa dikatakan sebagai Hukum Kekudusan. Bagian ini merupakan kumpulan prinsip-prinsip hidup untuk umat Allah yang dipanggil menjadi kudus.[40] Peraturan dan hukum yang tercantum didalamnya menyangkut seluruh umat. Melalui ini Allah menetapkan diri-Nya menjadi Allah Israel dan mengangkat Israel menjadi umat-Nya. Israel yang sudah diangkat menjadi umat Allah dan kini Allah menunjukkan kepada mereka tata hidup sebagai umat Allah. Bila tata hidup ini dijalankan, mereka dapat hidup sebagai umat Allah dengan sungguh-sungguh.[41]

2.5. Umat Kristen dan Kekudusan
2.5.1. Kekudusan Sebagai Panggilan Orang Percaya
Semua orang Kristen harus menyakini bahwa sesungguhnya semua orang beriman, tanpa kecuali dipanggil untuk hidup kudus kepada kesempurnaan kasih. Panggilan untuk hidup kudus berlaku bagi semua orang percaya yang didasarkan pada karya pengorbanan Kristus.[42] Orang Kristen adalah orang-orang yang telah dipanggil Allah untuk hidup kudus. Semuanya tanpa kecuali, tanpa pembedaan antara kelompok, golongan atau hal-hal tertentu. Setiap orang Kristen telah dipanggil sekaligus bertanggung-jawab untuk hidup kudus, hidup menurut Firman, menjadikan Firman itu hidup dalam kehidupannya sehari-hari. Namun kekudusan itu jangan dianggap sebagai jaminan memperoleh hidup kekal dan terlebih membawa kesombongan rohani. Tetapi orang Kristen bertanggung-jawab melaksanakan hidup kudus sebagai respon atas panggilan keselamatan dan kasih Tuhan yang telah kita terima dalam hidup kita. Hidup kudus berarti menjadi teladan Allah yaitu mencermin kekudusan-Nya.[43]

2.5.2. Orang Percaya Hidup Dalam Kekudusan
Ada beberapa hal yang penting untuk orang percaya hidup di dalam kekudusan, yakni[44]:
1. Karena kita dipanggil untuk menjadi kudus
Dikatakan Allah bahwa memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Manusia bukan hanya dipanggil tetapi juga dipilih, dikhususkan, disucikan, dan dipisahkan untuk menjadi suatu umat yang kudus bagi Allah (Kel. 19:6, Im. 20:26, 1 Pet. 2:9).

2. Kita adalah Bait Allah
Bait Allah merupakan suatu tempat yang kudus dan hadirat Allah akan hadir di dalamnya, untuk itulah seharusnya kita memelihara tubuh kita yang merupakan bait Allah yang hidup, agar selalu suci dan bersih dari segala kenajisan dan kecemaran.

3. Kita adalah anak-anakNya
Dalam Mat. 5:48 dikatakan “karena itu haruslah kamu sempurna”. Alkitab mengatakan sebagai Anak Allah, kita duduk bersama-sama dengan Tuhan Yesus di surge, disebelah kanan Allah (Mrk. 16:19). Kekudusan menunjukkan kita sebagai Anak Allah.

4. Kita adalah anggota-anggota tubuh-Nya
Dalam 1 Kor. 12:27 “kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggota-Nya” untuk itu sebagai anggota tubuh Kristus kita harus hidup sesuai dengan kehendak Kristus. Dalam 1 Tes. 4:7 dikatakan Allah memanggil kita bukan untuk melakukan yang cemar, melainkan apa yang kudus. Manusia bukan hanya dipanggil tetapi juga dipilih, dikhususkan, disucikan, dan dipisahkan untuk menjadi suatu umat yang kudus bagi Allah (Kel. 19:6, Im. 20:26, 1 Pet. 2:9).

2.6. Pola Hidup Bersih

2.6.1. Kebersihan  dan Kesahatan Dalam Hidup Manusia[45]

Kehidupan tidak dapat dipisahkan dengan kebersihan. Menyia-nyiakan kebersihan dapat menimbulkan bencana dalam kehidupan. Dengan hidup bersih akan menjadi pangkal kesehatan dan kecerdasan. Seharusnya hidup dengan lingkungan yang bersih mestinya sudah diajarkan sejak dini agar kelak  dewasa menjadi hal yang terbiasa. Kebersihan sudah menjadi masalah rutin dalam kehidupan sehari-hari, tentunya kita harus menyadari apa itu kebersihan. Bersih adalah sesuatu yang  bebas dari hal yang kotor. Jadi benda yang di katakan bersih apabila tidak ada kotoran berupa apa pun. Maka dari pengertian di atas bisa kita ketahui kebersihan berarti sesuatu hal yang harus dijaga dan dirawat dari hal-hal yang kotor yang dapat disenangi oleh kuman serta menjadi sarang penyakit. Sesuatu yang dapat menyebabkan kotor bisa berasal dari debu, sampah sisa makanan, barang-barang bekas, dan bangkai hewan. Apabila sumber kotor itu tidak di bersihkan atau di biarkan akan menjadi sarang dari berbagai penyakit.. Agar itu tidak terjadi maka kita harus terapkan hidup bersih setiap hari.
Dalam hidup bersih terlebih dahulu yang kita lihat adalah diri kita sendiri. Apakah diri kita sudah tampil bersih? Orang yang rajin merawat badan,  berpakaian yang bersih akan tercermin juga terhadap kebersihan rumahnya dan juga lingkungan sekitarnya. Dapat juga dikatakan orang yang berpenampilan rapi dan bersih. di mana dan kapan pun  orang itu biasanya selalu menerapkan kebersihan. Dan bila orang itu berpenampilan tidak rapi dan kotor, biasanya rumah dan lingkungannya juga kotor. Untuk membersihkan badan semua orang pasti mandi yaitu membersihkan tubuh dengan air bersih dan sabun, mencuci rambut dengan shampo dan menyikat gigi dengan pasta gigi. Kemudian berpakaian, pakaian yang kita pakai seharusnya bersih dan rapi agar kita nyaman memakainya. Agar pakaian selalu bersih, sehabis dipakai harus dicuci dan di setrika. Selain kebersihan penampilan diri yang tdak kalah penting adalah kebersihan rumah karena manusia untuk bisa bertahan hidup  harus memiliki tempat tinggal yaitu rumah. Kebersihan rumah harus dirawat dengan cara merapikan dan membersihkan perabotan rumah dari debu, menyapu lantai ruangan dan dipel, menyapu halaman rumah, dan membuang sampah pada tempatnya. Merawat rumah agar tetap bersih dan rapi harus dilakukan setiap hari, sehingga rumah akan menjadi lebih nyaman dan terhindar dari sumber -sumber penyakit.

2.6.2. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil dari pembelajaran yang menjadikan seseorang dapat menolong diri sendiri  dan berperan aktif dalam mewujudkan kebersihan dan kesehatan. Sehat adalah suatu keadaan yang lengkap meliputi kesehjateraan fisik, mental dan sosial, bukan semata-mata bebas dari penyakit dan cacat atau kelemahan.[46]
Ciri-ciri manusia bersih dan sehat adalah:
1.      Adanya peningkatan kemampuan dari manusia untuk hidup sehat dan bersih
2.      Mampu mengatasi masalah kesehatan sederhana melalui upaya peningkatan kesehatan (Health promotion), pencegahan penyakit (Health prevention), Penyembuhan (Curative) dan pemulihan kesehatan (Rehabilitation Health) terutama untuk ibu dan anak.
3.      Berupaya selalu meningkatkan kesehatan lingkungan dan kebersihan terutama penyediaan sanitasi dasar yang dikembangkan dan dimanfaatkan untuk meningkatkan mutu lingkungan hidup.
4.      Selalu meningkatkan status gizi  berkaitan dengan peningkatan status sosial ekonomi manusia
5.      Berupaya selalu menurunkan angka kesakitan dan kematian dari berbagai sebab dan penyakit.[47]

2.7. Kekudusan Menurut PL dalam Kaitannya dengan Pola Hidup yang Bersih bagi umat Kristen.
Sebagai orang yang dikuduskan oleh Allah, secara tegas Allah mengatakan supaya setiap orang harus menunjukkan bahwa dia adalah orang yang sudah dikuduskan. Harus dinyatakan dalam setiap saat dengan menaati perintah yang diberikan-Nya. Jika setiap saat umat-Nya menaati perkataan-Nya mereka akan aktif menguduskan kehadiran Allah ditengah-tengah mereka. Allah akan menguduskan mereka dan umat itu diberikan kepada Allah yang kudus. Sebagai umat yang menaati perintah Tuhan, Israel harus bersikap seperti yang Allah lakukan, supaya layak dipanggil sebagai umat yang kudus, demikianlah juga kita.[48]
Dalam Perjanjian Lama sifat Allah yang paling khas adalah kekudusan-Nya, Walaupun bangsa-bangsa dan tempat-tempat disebut kudus, tetapi hanyalah dalam artian dikhususkan bagi Allah, karena hanya Allah yang kudus (bnd. Yes. 6). Kekudusan itu berarti bahwa Dia betul-betul murni dalam sikap dan pikiran.[49] Orang Israel sebagai umat Allah yang harus menjadi bangsa yang kudus selaku umat Allah dan hal ini harus nyata dalam hidup sehari-hari, dengan menjauhkan diri dari segala kenajisan. Tahir berarti bersih dari segala dosa. Ketahiran barulah berarti suci jika hati menggambarkan dan disertai oleh kesucian batin, disertai oleh hati yang bersih dari dosa. Itulah sebabnya Allah memberikan berbagai syarat-syarat yang harus diikuti oleh bangsa Israel, jika mereka hendak hidup dalam persekutuan dengan Allah. Mereka juga dituntut untuk hidup dalam ketahiran pada kehidupan sehari-hari, misalnya syarat ketahiran jika terkena kepada mayat (bnd. Bil. 19), dalam persoalan makanan juga mereka diatut (Bnd. Im. 11 dan Ul. 14:1-21). Alasan syarat-syarat ini diberikan dalam Im. 20:25, 26. Israel adalah umat Allah yang diasingkan dari bangsa-bangsa lain; pengasingan ini harus nyata dari hal, bahwa bangsa Israel dalam segala hal melakukan kemauan Allah, taat dan menurut kepada Allah. Dalam hal urusan kebersihan tubu dari penyakit juga diatur dalam Imamat 13 dan 14, begitu juga dengan ketahiran dalam hal kelamin Im. 12 dan 15. Dengan syarat-syarat ini orang Israel harus memperlihatkan, bahwa mereka adalah umat Allah.[50]
Setiap orang Kristen telah dipanggil sekaligus bertanggung-jawab untuk hidup kudus, hidup menurut Firman, menjadikan Firman itu hidup dalam kehidupannya sehari-hari. Kehendak Allah adalah Firman Allah. Kekudusan yang dikatakan yakni supaya batin dan hidup manusia berkeadaan kudus yang akan terlihat dari kehidupan sehari-hari. Kita juga dapat melihat bahwa kekudusan terlihat dalam aspek rohani dan juga aspek jasmani. Kekudusan Allah menuntut kekudusan umat-Nya, artinya: umat Allah, yang adalah sekutu Allah, juga harus hidup terpisah daripada segala dosa, dan mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Allah (Im. 19:2; 1 Ptr. 1:16).[51] Kekudusan dalam aspek jasmani, seperti hidup bersih, pemakaiannya juga secara jasmani dan rohani. Kebersihan jasmani sangat dihargai di negeri-negeri yang disebut Alkitab. Imam-imam Mesir mandi dua kali tiap hari, dan dua kali tiap malam. Kebersihan dituntut juga dalam kehidupan masyarakat Israel. Hukum yang mengenai kebersihan[52] diikuti oleh  orang yang setia dalam menghampiri Allah. Dalam menghampiri dan berjumpa dengan Allah, kebersihan juga merupakan hal yang sangat penting (Kel. 19:10; 30:18-21; Yos. 3:5).[53] Kebersihan dalam pengertian keseluruhan merupakan bagian kekudusan secara jasmani. Kehidupan manusia yang sudah dikuduskan oleh Allah, bersifat holistik pada hidup manusia, baik rohani dan jasmani. Kekudusan yang sudah menjadi bagian dari diri manusia harus dinyatakan dalam kehidupan ini termasuk didalam menjaga dan menciptakan pola hidup yang bersih.

III. Kesimpulan
Kekudusan merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan orang Kristen yang percaya kepada Allah. Allah yang maha kudus, menguduskan umatnya. Kekudusan Allah sangat berhubungan dengan umat yang dipilihNya. Pemilihan/ perjanjian adalah ungkapan unik tentang kekudusan Allah. Karena Allah kudus maka Allah juga menuntut umat-Nya untuk hidup kudus (Im. 11:44). Allah menunjukkan kekudusanNya dalam tindakan-tindakanNya demi keselamatan umat yang sudah dipilihNya (Bil. 20:13). Kekudusan Allah menuntut kekudusan umat-Nya, artinya: umat Allah, yang adalah sekutu Allah, juga harus hidup terpisah daripada segala dosa, dan mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Allah. Kita juga dapat melihat bahwa kekudusan terlihat dalam aspek rohani dan juga aspek jasmani. Hidup bersih juga dalam artian rohani dan jasmani. Dalam hal jasmani, hidup yang bersih menjadi bagian didalamnya. Sehingga kekudusan yang kita pahami, didalam diri kita haruslah mencakup secara keseluruhan akan keberadaan kita.

IV. Daftra Pustaka
A. Van Gemeran, Willem(ed), New International Dictionary Of The Old Testament Theologi & Exegetis Vol. 3, America: Paternoster Press, 2002
Baker, David L., Mari Mengenal Perjanjian Lama, Jakarta: BPK-GM, 2002
Baker, F.L., Sejarah Kerajaan Allah I, Jakarta: BPK-GM, 2007
Darmawijaya, SJ, Selak Beluk Kitab Suci, Yogyakarta: Kanisius, 2009
Davidson, Robert, Alkitab Berbicara, Jakarta: BPK-GM, 2001
Defour, Xaper Leon, Ensiklopedia Perjanjian Baru Jilid II, Yogyakarta: Kanisius
Dyrness, William, Tema-Tema Dalam Teologi Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 2004
Feinberg, C.L., Najis dan Tahir dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z, Jakarta: YKBK/OMF, 2007
Finlayson, R.A., Kudus dalam Ensiklopedia Alkitab Jilid I, J.D. Douglas, Jakarta: YKBK, 1992
Guthrie, Donald, Teologi Perjanjian Baru-I, Jakarta: BPK-GM, 1995
Hadiwijono, Harun, Iman Kristen, Jakarta: BPK-GM, 2012
Hidayat, Aziz A., Kebutuhan Dasar Manusia, Jakarta: Kedokteran EGC, 2002
Kittle, Gerhard, dkk (ed.), Theological Dictionary Old The Testament Vol.1, Michigan: Eerdmans Publishing, 1993
Lassor, W.S. & F.W. Bush, Pengantar Perjanjian Lama 1, Jakarta: BPK-GM, 2005
Ludji, Barnabas, Pemahaman Dasar Perjanjian Lama 1, Bandung: Bina Media Informasi, 2009
Mackintosh, C. H., Notes On The Book Of Leviticus, New York: : Loizeaux Brother, 1959
Marsunu, Seto, Allah Leluhur Kami (Tema-Tema Teologis Taurat), Yogyakarta: Kanisius, 2008
Milne, Bruce, Mengenali Kebenaran, Jakarta: BPK-GM, 2009
Moloney, F.J., Menjadi Murid dan Nabi, Model Hidup Religius Menurut Kitab Suci, Yogyakarta: Kanisius, 1998
Mubarak, Wahit Iqbal, Pengantar Keperawatan Komunitas, Jakarta: Sagung Seto, 2005
Naude, Jackie A., dalam Dictionary Of Old Testament Theology & Ekesegesis, Paternoster Press, 1996
O’Collins, Gerald, SJ & Edward G. Farnugia. SJ, Kamus Teologi, Yogyakarta: Kanisius, 1996
Roberts, Roger, Hidup Suci (Panggilan Bagi Setiap Orang Percaya), Bandung: Yayasan Baptis Indonesia, 2000
Susanto, Hasan, Konkordansi Perjanjian Baru Jilid II, Jakarta: LAI, 2003
Thiessen, Henry C., Teologi Sistematika, Malang: Gandum Mas, 2000
Vriezen, Th. C., Agama Israel Kuno, Jakarta: BPK-GM, 2003
Weiser, Artur, Old Testament Library, Street London: SCM Press LTD Blommsbury, 1962
Westermann, Ernest Jenni Claus, Theological Lexicon Of The Old Testament Vol. 3, America: Hendrickson Publisher, 1997
Wolf, Herbert, Pengenalan Pentateukh, Malang: Gandum Mas, 2004
Wright, Christoper, Hidup sebagai Umat Allah, Jakarta: BPK-GM, 2007



[1] Jackie A. Naude, dalam Dictionary Of Old Testament Theology & Ekesegesis, Paternoster Press, 1996, p.877
[2] R.A. Finlayson, Kudus dalam Ensiklopedia Alkitab Jilid I, J.D. Douglas, Jakarta: YKBK, 1992, hlm. 617
[3] David L. Baker, Mari Mengenal Perjanjian Lama, Jakarta: BPK-GM, 2002, hlm. 37
[4] W.S. Lassor & F.W. Bush, Pengantar Perjanjian Lama 1, Jakarta: BPK-GM, 2005, hlm. 215
[5] Gerald O’Collins, SJ & Edward G. Farnugia. SJ, Kamus Teologi, Yogyakarta: Kanisius, 1996, hlm. 174
[6] Willem A. Van Gemeran (ed), New International Dictionary Of The Old Testament Theologi & Exegetis Vol. 3, America: Paternoster Press, 2002, p. 877
[7] Ibid, hlm. 878
[8] Gerhard Kittle, dkk (ed.), Theological Dictionary Old The Testament Vol.1, Michigan: Eerdmans Publishing, 1993, hlm. 89
[9] Willem A. Van Gemeran (ed), Op.cit., hlm. 883
[10] Ernest Jenni Claus Westermann, Theological Lexicon Of The Old Testament Vol. 3, America: Hendrickson Publisher, 1997, p.1106
[11] Willem A. Van Gemeran (ed), Op.cit., hlm. 879
[12] Christoper Wright, Hidup sebagai Umat Allah, Jakarta: BPK-GM, 2007, hlm. 112
[13] Willem A. Van Gemeran (ed), Op.cit., hlm. 884
[14] Ibid, p. 884                                                                                               
[15] Ibid, p. 886
[16] Xaper Leon Defour, Ensiklopedia Perjanjian Baru Jilid II, Yogyakarta: Kanisius, hlm. 511
[17] Hasan Susanto, Konkordansi Perjanjian Baru Jilid II, Jakarta: LAI, 2003, hlm. 11
[18] Ibid, hlm. 12
[19]R.A. Finlayson, Kudus dalam Ensiklopedia Alkitab Jilid I, Op.Cit., hlm. 617
[20] Hasan Susanto,  Op.Cit., hlm. 12
[21] Ibid, hlm. 13
[22] Ibid, hlm. 12
[23] R.A. Finlayson, Kudus dalam Ensiklopedia Alkitab Jilid I, Op.cit., hlm. 617
[24] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru-I, Jakarta: BPK-GM, 1995, hlm. 77
[25] Bruce Milne, Mengenali Kebenaran, Jakarta: BPK-GM, 2009, hlm. 97-98
[26] William Dyrness, Tema-Tema Dalam Teologi Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 2004, hlm. 36
[27] Herbert Wolf, Pengenalan Pentateukh, Malang: Gandum Mas, 2004, hlm. 26
[28] Artur Weiser, Old Testament Library, Street London: SCM Press LTD Blommsbury, 1962, p. 640
[29] Robert Davidson, Alkitab Berbicara, Jakarta: BPK-GM, 2001, hlm. 42
[30] Willem A. Van Gemeren (Ed), Op. Cit, p. 884
[31] R.A. Finlayson, Kudus dalam Ensiklopedia Alkitab Jilid I, Op.cit., hlm. 617
[32] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, Jakarta: BPK-GM, 2012 hlm. 91
[33] Darmawijaya, Selak Beluk Kitab Suci, Yogyakarta: Kanisius, 2009, hlm. 94
[34] Bruce Milne, Op. Cit., hlm. 98
[35] Barnabas Ludji, Pemahaman Dasar Perjanjian Lama 1, Bandung: Bina Media Informasi, 2009, hlm. 93
[36] Seto Marsunu, Allah Leluhur Kami (Tema-Tema Teologis Taurat), Yogyakarta: Kanisius, 2008 ,Hal. 74
[37] Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika, Malang: Gandum Mas, 2000, hlm. 442-443
[38] Harun Hadiwijono, Op.cit., hlm. 91
[39] David L. Baker, Op. Cit., hlm. 38
[40] W.S. Lassor & F.W. Bush, Op. Cit., hlm. 223
[41] Seto Marsunu, Op. Cit., hlm. 72-73
[42] F.J. Moloney, Menjadi Murid dan Nabi, Model Hidup Religius Menurut Kitab Suci, Yogyakarta: Kanisius, 1998, hlm. 11-12
[43] Roger Roberts, Hidup Suci (Panggilan Bagi Setiap Orang Percaya), Bandung: Yayasan Baptis Indonesia, 2000, hlm. 15-26
[44] Th. C. Vriezen, Agama Israel Kuno, Jakarta: BPK-GM, 2003, hlm. 20
[45] Aziz A. Hidayat, Kebutuhan Dasar Manusia, Jakarta: Kedokteran EGC, 2002, hlm. 23
[46] Wahit Iqbal Mubarak, Pengantar Keperawatan Komunitas, Jakarta: Sagung Seto, 2005, hlm. 23
[47] Ibid, hlm. 24
[48] C. H. Mackintosh, Notes On The Book Of Leviticus, New York: : Loizeaux Brother, 1959, p. 307
[49] Donald Guthrie, Op. Cit., hlm. 77
[50] F.L. Baker, Sejarah Kerajaan Allah I, Jakarta: BPK-GM, 2007, hlm. 370
[51] Harun Hadiwijono, Op.cit., hlm. 91
[52] Dalam pentahiran, cara yang biasa dilakukan ialah mandi dan mencuci pakaian (Im. 15:8, 10-11). Pentahiran dapat bersifat jasmani (Yer. 4:11) dan juga rohani untuk menebus dosa (Bil. 35:33). C.L. Feinberg, Najis dan Tahir dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z, Jakarta: YKBK/OMF, 2007, hlm. 121
[53] Ibid, hlm. 120-121

3 komentar:

  1. Hi admin, maaf sebelumnya. Ini kok saya tidak menemukan adanya ayat imamat 20:29 ya?

    BalasHapus
  2. Hi admin, maaf sebelumnya. Ini kok saya tidak menemukan adanya ayat imamat 20:29 ya?

    BalasHapus
  3. Terima kasih atas koreksinya
    Imamat 19:2

    BalasHapus