Senin, 11 Maret 2013

Gereja Sebagai Tubuh Kristus


Gereja Sebagai Tubuh Kristus

I.                   Pembahasan
            Pengertian Gereja
Kata “Gereja” berasal dari kata Portugis igreya, yang jika mengingat akan cara pemakaiannya sekarang ini, adalah terjemahan dari kata Yunani kyriake[1], yang berarti yang menjadi milik Tuhan. Adapun yang dimaksud dengan “milik Tuhan” adalah: orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juru Selamatnya. Jadi yang dimaksud dengan “Gereja adalah persekutuan para orang beriman”.[2] Menurut Alkitab, keselamatan yang dikaruniakan oleh Tuhan Allah dengan perantaraan karya Tuhan Yesus Kristus itu pertama-tama bukan ditujukan kepada perorangan, melainkan kepada umat Allah sebagai keseluruhan, atau kepada umat Allah yang mewujudkan suatu kesatuan. Yang disebut anak Allah pertama-tama adalah seluruh persekutuan orang beriman. Akan tetapi oleh karena tiap orang beriman menjadi anggota umat Allah sebagai keseluruhan, maka dengan sendirinya tiap orang beriman juga mendapat bagian dari keselamatan tadi.[3]
Istilah Yunani ekklesia berarti pertemuan atau sidang. Kata ini umumnya dipakai bagi sidang umum dari penduduk kota yang dikumpulkan secara resmi. Tidaklah jelas apakah pemakaian ekklesia secara Kristiani pada mulanya diambil dari pemakian non-Yahudi atau dari pemakaian Yahudi, tapi adalah pasti bahwa kata ini lebih mengandung arti “pertemuan” daripada “organisasi” atau “masyarakat”. Sifat asas ekklesia ialah setempat. Ekklesia setempat janganlah dipandang sebagai bagian dari ekklesia seantero dunia. Sekalipun adalah mungkin banyaknya gereja seperti banyaknya kota bahkan banyaknya rumah tangga, namun PB hanya mengacu pada satu ekklesia, tanpa menganggap perlu menjelaskan hubungan antara gereja yang satu dengan yang banyak itu. Gereja yang satu itu bukanlah gabungan atau federasi dari sekian banyak gereja. Gereja mewujudkan realitas “sorgawi” yang tidak tergolong bentuk dunia ini,  tapi termasuk wawasan kemuliaan kebangkitan, tempat Kristus ditinggikan di sebelah kanan Allah (Ef 1:20-23; Ibr 2:12; 12:23). Namun, karena ekklesia setempat dikumpulkan bersama dalam nama Kristus dan memiliki Kristus di tengah-tengahnya (Mat 18:20), maka ekklesia itu merasakan kuasa zaman yang akan datang dan merupakan buah-buah sulung dari ekklesia yang eskatologis. Demikianlah gereja setempat disebut “jemaat Allah”, yang telah dibeli dengan darah-Nya sendiri (Kis 20:28; 1 Kor 1:2; 1 Ptr 5:2; 1 Kor 12:27).[4]
            Pemahaman Gereja Sebagai Tubuh Kristus
Prinsip hidup ”di dalam Kristus[5]/tubuh Kristus” bukan hanya dimaksudkan dalam konteks sempit yaitu menyangkut masalah pribadi dan berkaitan dengan rohani pribadi seseorang, tetapi menyangkut juga dengan kehidupan sosial bersama, khususnya gereja. Bagi Paulus gereja itu saja, sebagai tubuh Kristus, dan satu Israel yang baru. Oleh karena ancaman serta perpecahan yang terjadi merupakan hal yang sangat menyedihkan hati Paulus. Konsepsi Paulus mengenai kesatuan meliputi kesatuan spiritual dalam Kristus/tubuh Kristus di mana tidak terdapat perbedaan dalam hubungan dengan Allah, tetapi bukan kesatuan yang menghilangkan semua perbedaan historis. Konsepsinya mengenai kesatuan memerlukan keutuhan yang terus menerus antara bangsa-bangsa bukan Yahudi dan bangsa Yahudi. Iman kepada Yahwe sebagai Allah yang esa yang universal dengan demikian memerlukan pengakuan bersama antara orang-orang yahudi dan orang-orang bukan yahudi bahwa mereka adalah milik Allah yang sama. Boleh dikatakan lebih lanjut bahwa setiap usaha oleh salah satu pihak untuk menghapuskan keadaan etnik dan budaya pihak yang lainnya akan berarti menghancurkan konsepsi khusus Paulus mengenai kesatuan antara orang-orang Yahudi dan orang-orang bukan Yahudi.[6]
Ungkapan tubuh Kristus dalam PB digunakan dengan trimakna:[7]
1.      Tubuh manusiawi dari Yesus Kristus. Ini ditekankan dalam PB oleh para penulisnya sebagai benar-benar riil menghadapi doketisme (menyangkal bahwa Yesus Kristus datang dalam daging adalah ’dari antikristus’ 1 Yoh 4:2-3). Realitas tubuh Kristus adalah bukti bahwa Ia benar-benar manusia sejati. Bahwa Sang Anak harus mengenakan tubuh manusiawi memang maha penting bagi keselamatan (Ibr 2:14) dan teristimewa bagi pendamaian (Ibr 10:20). Bahwa tubuh itu menjadi lain (bukan dilepaskan) pada kebangkitan-Nya adalah jaminan dan contoh dari kebangkitan tubuh orang percaya (1 Kor 15; Flp 3:2).
2.      Roti perjamuan terakhir. Tentang ini Kristus berfirman, ”Inilah tubuh-Ku” (Mat 26; Mrk 14; Luk 22; 1 Kor 11; 1 Kor 10:16). Kata-kata ini dalam sejarah ditafsirkan dalam dua arti: ”Itu melambangkan korban-Ku”, dan ”Inilah Aku Sendiri”.
3.      Ungkapan yang persis dipakai Paulus dalam 1 Kor 10:16; 12:27 dan mengacu kepada sekelompok orang percaya (bnd Rm 12:5 ’satu tubuh dalam Kristus’) dan ’tubuh’ dalam ayat-ayat tentang suatu gereja atau Gereja, yaitu 1 Kor 10:17; 12:12; Ef 1:23; 2:16; 4:4,12,16,23; Kol 1:18,24; 2:19; 3:15. Perhatikanlah bahwa ungkapannya adalah ”tubuh Kristus”, bukan ”dari orang-orang Kristen”, dan mengandung ari dapat kelihatan, berjemaat dan eskatologis.
Asal dari lukisan Paulus tentang ”Tubuh Kristus” ini telah dicari di pengambilan bagian secara kelompok dalam roti perjamuan, menyatakan tubuh yang telah dipecah-pecahkan, konsepsi-konsepsi Stoa, Kristus dianggap satu dengan orang Kristen (Kis 9:4-5; Kol 1:24).
PB menamai gereja itu dengan beberapa istilah, yaitu gereja adalah bait Allah, bangsa Allah, Israel baru. Tetapi istilah yang paling tepat adalah gereja sebagai tubuh Kristus. Istilah ini sangat banyak dalam surat-surat Paulus (Ef 1:22; 5:29; Kol 1:18; 1 Kor 10:6). Dari ayat-ayat ini dinyatakan walaupun anggota tubuh dalam satu badan yang berbeda, tapi mempunyai tugas masing-masing dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Tubuh dan kepala ialah perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan wujud gereja. Karl Barth menguraikan arti istilah ini melalui 4 point:[8]
1.      Tubuh Kristus berarti bahwa di dalam gereja ada hubungan dengan Kristus. Gereja bukan lanjutan inkarnasi Allah. Tapi tanda itu nampak di dunia ini. Kristus telah pernah datang berupa badan manusia, sekarang berada dalam tubuh-Nya yakni gereja. Jadi gereja adalah tubuh duniawi dari Tuhan surgawi.
2.      Gereja dikumpulkan dan diperintahkan oleh Kristus sang kepala gereja. Gereja tidak boleh bertindak seolah-olah ia berdiri sendiri dan tidak boleh memerintah diri sendiri. Dari awal, gereja adalah milik Kristus dan Dia-lah yang memerintah (Kristokrasi). Jadi gereja bukan perkumpulan orang-orang yang saleh. Gereja dijadikan oleh Kristus dan milik Kristus.
3.      Perkataan tubuh Kristus berarti anggota gereja bukan membntuk kesatuan oleh dorongan hati sendiri. Mereka adalah satu kesatuan. Gereja bukan gabungan oknum-oknum yang mengakibatkan berdirinya gereja. Gereja melebihi oknum, melebihi jumlah anggota jemaat, gereja adalah ibu orang percaya.
4.      Istilah tubuh ada kaitannya dengan suatu badan yang tampak. Jika kita lihat gereja, kita melihat anggota jemaat, pendeta dll. Tapi masih ada yang tidak kelihatan, yaitu iman, persekutuan. Kita percaya bahwa kita adalah anggota jemaat yang telah dipanggil dan dibenarkan juga dihimpunkan oleh Tuhan. Kita tidak boleh membedakan gereja yang tampak dan tidak tampak. Keduanya adalah dua segi dari satu badan.
Gereja adalah tempat persekutuan orang-orang yang telah dipanggil dan disucikan oleh Allah melalui karya penebusan Yesus di kayu salib dan diutus ke dalam dunia untuk mempersaksikan Yesus Kristus.[9] Gereja sebagai ”tubuh Kristus” berarti di dalam ada hubungan yang serasi antara Kristus sebagai kepala, gereja sebagai tubuh dan sesama anggota tubuh. Gereja sebagai tubuh Kristus terdiri dari berbagai macam bentuk anggota akan tetapi semua macam-macam anggota tersebut telah dipersatukan dalam tubuh Kristus dan harapan gereja sebagai tubuh Kristus adalah untuk saling mengasihi, saling membantu dan saling menghormati dan saling merendahkan diri di hadapan Tuhan. Gereja sebagai tubuh Kristus dan Kristus sebagai kepala tentu ada yang menghubungkan dan mempersatukan yaitu Roh Kudus. Hubungan kepala dan tubuh harus selalu terkordinir agar pertumbuhan tubuh itu sehat dan baik. Gereja hanya dapat menjadi sehat dan berguna apabila hanya Kristus benar-benar menjadi kepala setiap warga dan segala perilaku kehidupannya, membiarkan diri diatur oleh-Nya sebagaimana setiap bagian tubuh yang sehat patuh kepada Yesus Kristus sebagai kepala adalah pemegang kendali pemerintahan sekaligus menjadi tujuan, sehingga apapun yang dilakukan oleh tubuh (gereja), semata-mata untuk kepala gereja sebagai tubuh Kristus tersangkut dengan persekutuan sesama.[10]
            Jemaat Sebagai Satu Tubuh
Dari semua kiasan yang dipakai Paulus, kiasan mengenai tubuh adalah yang paling hidup dan penuh arti. Dalam Surat Roma ia menggunakan kiasan ini untuk mengajarkan bahwa karunia-karunia yang berbeda bisa dipakai di dalam satu jemaat (Rm 12:4-8). Ia membuat pembedaan yang jelas antara kesatuan dan keseragaman: tubuh menggambarkan kesatuan jemaat. Dalam Surat 1 Korintus, Jemaat digambarkan sebagai tubuh, tubuh manusia memberikan gambaran mengenai hubungan Kristus dengan orang-orang percaya. Gagasan mengenai tubuh Kristus ini menunjukkan betapa eratnya ikatan yang mempersatukan semua orang percaya. Tentunya yang dimaksudkan dengan tubuh dalam konteks ini ialah Jemaat setempat, tetapi hal ini penting mengingat adanya karunia-karunia rohani yang berbeda-beda yang sedang dinyatakan.[11]
Penggunaan yang lebih berkembang dari kiasan itu dapat terlihat dalam Surat Efesus dan Kolose.[12] Di sini ekklesia disamakan dengan tubuh Kristus (Ef 1:22-23; 4:12,15-16; 5:23; Kol 1:18-24), suatu konsep kristologis yang lebih khusus diperkenalkan. Jelas bahwa Kristus sebagai Kepala mengendalikan Jemaat, Ia dipandang sebagai sumber kehidupan dan kepenuhan Jemaat. Dialah yang paling utama (Kol 1:18). Kristus sebagai Kepala ditekankan secara khusus sebagai unsur yang mempersatukan (Ef 1:22-23; 4:15). Lagi pula, proses menjadikan satu di dalam satu  tubuh, dikatakan telah dilakukan melalui salib (Ef 2:16) yang mengatasi permusuhan orang-orang Yahudi dengan orang-orang bukan Yahudi, dengan merobohkan tembok pemisah yaitu perseteruan (Ef 2:14). Kiasan tentang tubuh menjadi tidak sesuai bila terjadi perseteruan antara orang-orang Kristen Yahudi dengan orang-orang Kristen bukan Yahudi: tubuh tidak dapat berfungsi bila salah satu bagiannya mempunyai sikap bermusuhan terhadap bagian yang lain. Pengembangan kiasan tentang tubuh ini diterapkan pada Jemaat, khususnya menekankan segi universalnya.[13]
Paham ”Tubuh Kristus” dapat diperjelas dengan dua gagasan Paulus lagi, yakni pertama, gagasan ”kita dalam Kristus” ataupun ”Kristus dalam kita”, dan kedua, paham ”kepala tubuh”.[14]
  • Paulus sering berkata bahwa orang beriman hidup ”dalam Kristus”. Ungkapan ini menunjuk kepada kesatuan yang erat antara  Kristus dan orang Kristen. Kesatuan itu sedemikian erat sehingga dapat disebut inklusi yang bersifat inkorporasi dan simbiosis, persenyawaan. Persatuan yang vital ini kadang-kadang diungkapkan juga dengan rumusan ”Kristus di dalam aku” (Gal 2:20). Orang-orang yang secara begitu diinkorporasi ke dalam Kristus betul-betul merupakan tubuh Kristus.
  • Kepada gereja paham ”tubuh” hanya boleh dikenakan kalau kepada Kristus dikenakan paham ”kepala” (kephale). Ada dua alam pikiran yang melatarbelakangi paham ”kepala” untuk memperlihatkan peranan dan arti Kristus bagi gereja. Di satu sisi ada latar belakang budaya Hellenis, khususnya ilmu kedokteran waktu itu, yang memandang kepala tubuh sebagai sumber kehidupan bagi tubuh seluruhnya. Maka, dengan latar belakang ini paham ”kepala” mau menyatakan bahwa Kristus merupakan sumber hidup bagi gereja (Ef 4:16; Kol 2:19). Akan tetapi, ”sumber hidup” tidak dimaksudkan dalam arti fisik-biologis, tetapi dalam arti rohani. Kristus menghidupkan dan menggerakkan gereja dengan cara rohani, yakni dengan mengasihinya bagaikan seorang suami mengasihi istrinya (Ef 5:23-30). Di sisi yang lain  ada latar belakang alam pikiran Yahudi, dan dengan demikian kata ”kepala” berarti ”pemimpin”. Kristus memimpin gereja, seperti YHWH memimpin umat-Nya. Di sini paham ”kepala” mau mengungkapkan keunggulan serta kekuasaan  Kristus (Ef 1:23; Kol 1:18) terhadap “pemerintah-pemerintah dunia yang gelap ini” (Ef 6:12). Yang pokok dalam pikiran Rasul Paulus ini bukanlah tubuh, melainkan kepala. Kristus dilihatnya bukan sebagai bagian tubuh, melainkan  sebagai prinsip kehidupan seluruh tubuh. “Tubuh” bukan saja dalam arti “badan sosial” atau “lembaga”, melainkan terutama dalam arti “organisme hidup”. Gereja disebut “tubuh Kristus” karena mengambil bagian dalam hidup Kristus. 
 Untuk menunjukkan sifat jemaat sebagai tubuh secara lebih mendalam lagi, Paulus mengutarakan suatu perumpamaan (1 Kor 12:21-26). Setiap anggota tubuh berguna dan penting, tidak ada satu anggota pun yang boleh dibuang. Beberapa anggota boleh disebut lemah tetapi sangat dibutuhkan, dan ada anggota lain yang dianggap kurang elok, tetapi dihargai dengan cara mengenakan pakaian adanya. Kegunaan salah satu anggota tidak dapat dinilai dari kekuatan atau penampilannya, karena anggota yang tidak memenuhi penilaian seperti itu sebenarnya justru sangat vital untuk  kesehatan seluruh tubuh.[15]
Michael Giffit mengungkapkan ada beberapa hal yang menjelaskan tentang gambaran tubuh untuk melukiskan keberadaan jemaat yakni: solidaritas, keanekaragaman fungsi, kerja sama, mengoreksi, bukan untuk dirinya sendiri.[16] Tubuh merupakan suatu kiasan yang digambarkan pada kesatuan jemaat. Kesatuan yang dimaksud ialah kesatuan orang percaya di dalam Kristus. Dasar kesatuan jemaat kita temukan dalam doa Yesus Kristus untuk jemaat-Nya. Yesus mengungkapkan ”supaya mereka menjadi satu, sama seperti Engkau, Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku, Yohanes 17:21”. Sebagaimana Yesus sendiri menyatu dengan BapaNya di Surga demikian juga jemaat harus bersatu, seorang dengan yang lain. Bahkan lebih dari itu Yesus mendoakan pengikut-pengikutNya agar mereka menjadi satu dengan Tuhan. Hal ini sangat penting bahwa kita hanya dapat bersatu dalam jemaat kalau memang kita telah bersatu dengan Kristus yakni: jikalau kita hidup di dalam Dia dan Dia hidup di dalam kita. Jelaslah bahwa kesatuan jemaat yang dimaksudkan Yesus bersifat rohani, yaitu berasal dari kesatuan Allah Bapa dengan AnakNya dan dari kesatuan kita dengan Tuhan. Dasar kesatuan ini bukan organisasi dan administrasi tetapi kesatuan dalam iman dan kasih.[17]
Di dalam surat Roma Paulus menggunakan kiasan tubuh Kristus untuk mengajarkan bahwa karunia-karunia yang berbeda bisa dipakai dalam satu jemaat (Rm 12:4-8). Dalam hal ini Paulus mau mengingatkan jemaat walaupun jemaat itu mempunyai keberagaman baik latar belakang, status, jenis kelamin, kedudukan,  dan lain-lain tetap menggambarkan kesatuan yang utuh yaitu tubuh Kristus. Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak dan segala anggota itu sekalipun banyak merupakan satu tubuh dan kita semua diberi minum dalam satu Roh (1 Kor 12:12-13). Paulus mengumpamakan jemaat sebagai tubuh yang masing-masing anggotanya mempunyai peranan yang khas.[18] Dalam tubuh manusia ada banyak anggota bahwa anggota-anggotanya itu bersatu karena menjadi bagian dari tubuh yang satu itu. Sangat jelas bahwa anggota-anggota tubuh itu berbeda tetapi tidak satupun anggota tubuh itu dianggap paling penting atau tidak dibutuhkan tetapi semuanya penting dan dibutuhkan. Karena setiap anggota saling mempengaruhi dengan anggota tubuh yang lain. Hal ini Paulus menggambarkan bahwa dalam satu tubuh terdapat beberapa anggota yang kesemuanya mempunyai fungsi masing-masing namun tetap mempunyai keterkaitan antara satu dengan yang lain. Demikian jugalah dengan jemaat mempunyai fungsi sesuai dengan talenta yang diimilikinya untuk menyatakan dan menyaksikan Kristus dan setiap anggota jemaat mempunyai tugas masing-masing dalam pelayanan Kristus.[19]
            Jemaat Sebagai Pengantin Perempuan
Penggunaan kiasan tentang pernikahan mendapat dukungan dari pengajaran Yesus. Kiasan tersebut ditemukan dalam perumpamaan tentang gadis-gadis, tetapi arti dari perumpamaan itu tidak bergantung pada identifikasi dari pengantin itu (Mat 25:1-13). Perumpamaan tentang perjamuan kawin juga menggunakan gagasan yang sama untuk menggambarkan sifat-sifat Kerajaan Surga, tetapi tidak memberikan petunjuk apa-apa mengenai siapa yang dimaksudkan dengan pengantin itu (Mat 22:1-14). Yohanes Pembaptis menggunakan gambaran tentang mempelai perempuan dan mempelai laki-laki dengan maksud untuk membedakan dirinya dari keduanya. Ia menyatakan dirinya sebagai sahabat mempelai laki-laki, tetapi ia tidak menjelaskan siapa mempelai perempuan itu (Yoh 3:29-30). Baru pada saat Paulus memikirkan Jemaat, kiasan itu diterapkan pada perhimpunan umat Kristen (Ef 5:25). Tetapi di sini pun Jemaat tidak disebut secara khusus sebagai mempelai perempuan, hanya disebutkan bahwa hubungan suami  dengan istri dipakai sebagai analogi (kiasan) pada hubungan Kristus dengan JemaatNya.[20]
            Jemaat Sebagai Bangunan
Kiasan ini terdapat dalam dua surat. Walaupun sifatnya benda mati namun artinya tidak berkurang. Ada kesejajaran kiasan yang dipakai dalam Matius 16:18. Gagasan ini dikembangkan oleh Paulus dalam Surat 1 Korintus. Ia menyatakan bahwa jemaat Korintus adalah bangunan Allah (1 Kor 3:9), dan kemudian ia menyamakan dirinya sebagai seorang ahli bangunan (1 Kor 3:10), yang menarik perhatian pada satu-satunya dasar yang diperbolehkan, yaitu Kristus sendiri. Hal ini membawa Paulus untuk memikirkan gagasan mengenai rumah Allah (1 Kor 3:16). Keseluruhan orang-orang percaya pada suatu daerah dipandang sebagai tempat kediaman Allah, tetapi hal ini juga berarti bahwa setiap orang Kristen adalah rumah Allah. Sebagaimana Allah telah tinggal di tempat yang maha kudus, dengan demikian Roh Kudus tinggal di dalam ekklesia. Kiasan yang sama terdapat dalam 1 Korintus 6:19, yang menganggap tubuh masing-masing orang percaya sebagai rumah Allah.[21]
Dalam surat Efesus, keseluruhan Jemaat dipandang sebagai rumah Allah (Ef 2:19-22). Paulus berbicara mengenai “seluruh bangunan” yang dipersatukan bersama-sama sehingga rapi tersusun dan tumbuh “menjadi bait Allah yang kudus; di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah di dalam Roh”. Beberapa hal yang penting muncul dari perikop ini. Di situ, yang dimaksudkan dengan rumah Allah adalah keseluruhan perhimpunan orang Kristen, karena itu masing-masing bagian dari bangunan itu merupakan jemaat-jemaat atau orang-orang secara pribadi. Masing-masing bagian itu penting selama diikatkan pada keseluruhan. Di sini terdapat gabungan kiasan-kiasan yang dapat dimengerti, karena bangunan-bangunan itu tidak bertumbuh menjadi rumah Allah, tetapi artinya cukup jelas. Peranan jemaat-jemaat Kristen masing-masing adalah membentuk bagian yang dapat kelihatan dari keseluruhan jemaat. Penting untuk diperhatikan bahwa yang dimaksudkan dengan “bangunan” di situ bukanlah sebuah gedung ataupun suatu organisasi, melainkan tempat kediaman Allah.[22]
            Jemaat Sebagai Umat Allah Yang Sejati
Paulus menggunakan sejumlah kiasan untuk mengungkapkan gagasan tentang jemaat sebagai umat Allah. Kata ”umat” dalam PB tidak hanya berarti suatu kumpulan orang-orang secara pribadi. Umat Allah dalam PB adalah perhimpunan orang-orang yang diketahui khusus sebagai orang yang percaya kepada Tuhan yang bangkit. Pengertian tentang ”umat Tuhan” bukanlah tidak jelas, mereka yang bukan ”umat Allah” telah menjadi umat Allah (Rm 9:25-26 bnd 1 Ptr 2:9-10). Paulus kadang-kadang menyebut orang-orang percaya secara pribadi atau sebagai perhimpunan sebagai ”rumah Allah”, tetapi selain itu tidak memakai kiasan-kiasan yang diambil dari agama Yahudi untuk menjelaskan pengertiannya tentang Jemaat. Namun, ia memandang dirinya sebagai ”pelayan Kristus Yesus” (leitourgos) dan orang-orang bukan Yahudi yang percaya sebagai persembahan yang berkenan kepada Allah (prosfora, Rm 15:16). Bagi Paulus umat Allah ialah perhimpunan orang-orang yang telah ditebus yang tidak lagi terhalangi dalam hubungan mereka dengan Allah. Sebenarnya mereka adalah umat yang didamaikan dengan Allah: mereka yang telah menjadi Israel yang sejati.[23]
Gereja adalah umat (laos) Allah yang baru. Istilah “umat” dalam pemikiran Alkitab sering mengandung makna teknis yang menunjukkan mereka yang berada dalam hubungan khusus dengan Allah. Penggunaan ini sama sekali tidak unik bagi Paulus, melainkan sering muncul dalam PB. Dalam takdir yang lama, Israel adalah umat Allah. Penolakan Israel terhadap Mesiasnya menyebabkan Paulus mengemukakan pertanyaan, ”Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya” (Rm 11:1). Selanjutnya tak ada persyaratan yang perlu untuk menunjukkan Israel sebagai umat Allah.[24] Hal ini membuka pertanyaan menyeluruh tentang hubungan antara gereja dengan Israel. Paulus jelas membedakan antara Israel empiris dan Israel rohani, antara umat secara keseluruhan dan umat tersisa yang setia. ”Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel” (Rm 9:6). Di sini Paulus menyodorkan Israel sejati yang setia kepada Allah ke hadapan Israel secara keturunan jasmani. Meskipun, namun atas anugerah-Nya ada umat tersisa yang dipilih (Rm 11:5) yang telah percaya. Orang Yahudi yang benar bukanlah orang Yahudi lahiriah, melainkan orang Yahudi di dalam batin, dan sunat bukanlah perkara kedagingan, melainkan menyangkut hati (Rm 2:28). Mungkin ini tidak menunjukkan semua orang percaya, melainkan hanya orang-orang Yahudi yang telah dengan sungguh menaati Taurat. Jadi, meskipun Allah akhirnya tidak membuang umat-Nya Israel, namun gereja yang terdiri dari orang Yahudi dan bukan Yahudi telah menjadi cabang-cabang dari pohon Zaitun, umat Allah, Israel yang benar.[25]
Gereja (jemaat) sebagai tubuh Kristus menunjukkan bahwa Kristus adalah sama dengan tubuhnya, sama seperti halnya tubuh manusia adalah manusia itu sendiri. Jikalau jemaat disebut sebagai tubuh Kristus, hal ini berarti bahwa hidup jemaat mewujudkan perubahan atau penjelmaan hidup Kristus. Jemaat yang disebut tubuh Kristus harus dipandang dalam fungsinya yang sejati di dalam Kristus. Dalam cara hidupnya yang menampakkan hidup Kristus yang harus diterangi oleh terang Kristus dan di bawah kuasa Kristus yang mendatangkan berkat. Pandangan tentang gereja sebagai tubuh Kristus menurut Bultmann yang dikutip Pdt. Th. J. Nanulaitta, gereja adalah ciptaan Roh Kudus. Gerejalah bukti yang nampak di bumi yang tidak dibiarkan Allah hidup untuk dirinya sendiri, tetapi menghubungkan dirinya dengan tubuhnya (gereja), maka tubuhnya diharapkan berhubungan antara yang satu dengan yang lain secara benar. Gereja sebagai tubuh Kristus adalah merupakan tujuan akhir yang diharapkan Allah dari tubuhnya yang diwujudkan di dalam kesatuan iman. Di dalam kesatuan Kristus ada Roh yang merupakan suatu realitas masa kini dan kesatuan iman haruslah dilihat sebagai sarana masa depan.[26]
            Manusia sebagai Ciptaan Baru
Paulus berbicara mengenai ciptaan baru yang berlangsung pada orang percaya di dalam Kristus (2 Kor. 5:17). Dengan menggunakan waktu sekarang “ia adalah ciptaan baru”, Paulus menunjuk kepada sesuatu yang benar pada saat ini yang berada “di dalam Kristus”. Ungkapan itu dimaksudkan untuk suatu perubahan radikal yang terjadi pada saat seseorang menjadi Kristen. Tetapi di dalam Kristus jauh lebih berarti dari sekedar ungkapan “Kristen”. Secara hidup ungkapan ini mengungkapkan pikiran bahwa apa yang terjadi pada Kristus ada dampaknya pada setiap orang yang percaya kepadaNya. Ciptaan baru itu terjadi pada  orang percaya berkat apa yang terjadi pada Kristus.
Ada yang menyamakan ciptaan baru itu dengan jemaat, yang merupakan suatu contoh atau prototype dari dunia yang diciptakan kembali. Dengan demikian pengetian jemaat berubah menjadi bukan lagi suatu lembaga gerejani, melainkan suatu kelompok orang percaya yang ikut ambil bagian dalam kehidupan umum yang berpusat pada Kristus. Ia melihat tatanan lama sebagai yang benar-benar mati sejauh menyangkut dengan orang-orang Kristen, tapi ini tidak berarti bahwa perubahan yang dapat dilihat mata telah terjadi atas tatanan yang ada ini. Dalam benak Paulus setiap kelompok orang-orang Kristen secara berturut-turut dapat memandang kepada salib dan tahu bahwa tatanan lama, yang asing bagi Allah telah dihancurkan. Ciptaan baru hanya terjadi di dalam Kristus.[27]      
            Umat Allah[28]
Paulus menggunakan sejumlah kiasan untuk mengungkapkan gagasan tentang jemaat sebagai umat Allah.[29] Kata “umat” dalam PB tidak hanya berarti suatu kumpulan orang-orang secara pribadi. Umat Allah dalam PB adalah perhimpunan orang-orang yang diketahui khusus sebagai orang yang percaya kepada Tuhan yang bangkit. Pengertian tentang “umat Allah” bukanlah tidak jelas.mereka yang bukan “umat Allah” telah menjadi umat Allah (Rm 9:25-26 bnd I Ptr 2:9-10).
            Sering terdapat persamaan antara pengalaman umat Allah dalam PB dan pengalaman Israel dalam PL. Paulus menjelaskan mengenai pengalaman Israel di padang gurun dalam 1 Korintus 10:1 dst., dan ia langsung menghubungkan Kristus dengan batu karang yang dipukul oleh Musa. Dalam pembahasannya lebih rinci mengenai hubungan orang-orang dengan bukan Yahudi dalam Roma 9-11, Paulus memakai gagasan tentang sisa bangsa Israel, dan menerapkan hal ini secara rohani. Memang diakui bahwa belum tentu Paulus dalam pasal-pasal ini menyamakan sisa Israel itu dengan jemaat secara keseluruhan, mungkin ia hanya memikirkan tentang kelompok orang-orang Kristen Yahudi; tetapi tentunya ia memikirkan suatu umat yang terdiri dari orang-orang yang percarya kepada Allah. Dalam hubungan ini kita dapat melihat cara yang dipakai oleh Paulus yang menerapkan gagasan pemilihan kepada orang-orang yang sudah masuk menjadi umat Allah (Rm 11:5; 8:33; Ef 1:4 dst). Umat Allah adalah orang-orang yang dipilihNya untuk menggenapi maksudnya dan pengertian bersama  bahwa merekalah orang-orang yang terpanggil dan terpilih inilah yang memberikan rasa solidaritas yang kuat kepada mereka.[30]
            Israel Milik Allah
Kata ini hanya muncul satu kali dalam PB, yakni dalam Galatia 6:16. Pada saat Paulus menulis kepada orang-orang Kristen bukan Yahudi dalam Roma 4:16 dan Galatia 2:29, ia menyebut mereka sebagai anak-anak Abraham. Keturunan ini bukan lagi hanya mengenai soal bangsa atau sunat, tetapi soal iman. Pengertian tentang umat Allah telah bergeser dari bangsa yang disuruh Tuhan menuju perhimpunan orang-orang yang beriman, dan demikian ruang lingkupnya diperluas (bersifat universal) dan keanggotaannya lebih jelas (yaitu berdasarkan iman kepada Kristus). Dalam kaitan inilah maka orang Kristen (gereja) selanjutnya disebut sebagai Israel yang Baru.[31] Sekalipun umat Kristen berbeda dari umat PL, melanjutkan rencana keselamatan Allah dalam sejarah bersama-sama dengan mereka. Gereja dan umat Israel bersama-sama memainkan peranan penting dalam menggenapi rencana keselamatan Allah untuk dunia.[32]
            Anak-anak Allah
Dalam bahasa Ibrani kata “anak” diterjemahkan dengan בֵּן (ben) yang dapat berarti anak, cucu atau anggota dari suatu kelompok.[33] Istilah Anak Allah secara khusus dalam PB merujuk pada Yesus Kristus yang memiliki latar belakang dari pemahaman di PL.[34]
            Istilah anak Allah secara khusus dalam PB merujuk kepada Yesus Kristus. Anak Allah adalah gelar yang diberikan kepada Yesus yang menjelaskan kedudukan dan hubunganNya dengan Allah. Barangkali menjelang zaman PB penggunaan Anak Allah bagi Mesias dan bahwa orang-orang saleh adalah tujuan khusus pemeliharaan dan perhatian Allah sebagai Bapa, sudah berkembang. Yesus sendiri sangat memahami hubunganNya yang khas dengan Allah, yang dalam doanya disapanya Abba (Mrk.14:36; bnd. Mat.11:27; Luk.10:22). Makna ke-anakan yang khas ini mengungguli makna keanakan seorang Yahudi yang saleh terhadap Allah. Hal ini tampak dalam cara Allah menyapa Yesus sebagai anakNya pada peristiwa baptisan dan pemuliaan (Mrk.1:11; 9:7), juga dalam cara Iblis dan setan-setan menyapa Dia (Mat.4:3,6; Mrk.3:11; 5:7).[35] Paulus menggunakan istilah ini mengutip dari tradisi yang memang telah ada dalam jemaat Kristen pada waktu itu. Konfesi ini menghormati Yesus sebagai anak Allah, sebagai pemberian Allah dalam rangka penebusan umat manusia (Rm. 8:3).[36] Manusia yang mengakukan bahwa Yesus adalah penebus mereka, berdasarkan konsep Paulus, menjadi satu di dalam Kristus dan mendapat bagian menjadi anak-anak Allah. Dan ini hanya dapat terjadi bila berada di dalam Allah.
            Gereja Sebagai Gambaran Kerajaan Sorga
Ketika Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus mulai memberitakan Injil, mereka berkata: ”Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat 3:2; 4:17). Akan tetapi Mrk 1:15 Tuhan Yesus berkata: ”Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”. Kedua ayat ini menunjukkan bahwa ungkapan ”Kerajaan Sorga” adalah sama dengan ungkapan ”Kerajaan Sorga”. Isi harapan akan kedatangan kerajaan Allah dalam kesempurnaannya itu biasanya diungkapkan dalam bentuk kebangsaan Israel, sebagai umpamanya, bahwa Israel akan  dibangun kembali sebagai bangsa, TUHAN akan bertakhta di Yerusalem, para musuh Israel akan dibinasakan, dan lain sebagainya. Selain daripada itu kedatangan kerajaan Allah yang secara sempurna itu dihubungkan dengan kedatangan Mesias. Kemuliaan kerajaan Allah tadi bertindih tepat dengan kemuliaan kerajaan perdamaian Mesias.
Seperti yang telah dikemukakan di atas, ketika Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus memulai pekerjaan mereka, mereka memberitakan, bahwa kerajaan sorga telah dekat. Di dalam pemberitaan tadi kerajaan Allah disebut kerajaan sorga, untuk menunjukkan bahwa kerajaan itu berasal dari sorga, dari atas, diperintah dari atas. Kerajaan sorga juga dapat disebut kerajaan Kristus, atau kerajaan Mesias, yaitu selama Kristus masih harus menyelesaikan karya penyelamatanNya. Kelak, jikalau karya penyelamatan Kristus itu telah selesai, kerajaan ini akan diserahkan kepada Allah Bapa (1 Kor 15:24).[37]
            Hubungan Gereja Dengan Kerajaan Sorga
Sekarang harus diteliti hubungan khusus antara kerajaan itu dan gereja, dengan menerima bahwa kumpulan murid-murid Yesus sebagai cikal bakal gereja, atau gereja itu sendiri. Dalam idiom alkitabiah, kerajaan itu tidak diidentifikasikan dengan subyeknya. Mereka adalah umat pemerintahan Allah yang memasukinya, hidup di dalamnya, dan diperintah olehnya. Gereja adalah masyarakat kerajaan itu, tetapi bukan kerajaan itu sendiri. Murid-murid Yesus adalah milik kerajaan itu sebagaimana kerajaan itu adalah milik mereka, tetapi mereka bukan kerajaan itu. Kerajaan adalah pemerintahan Allah, sedangkan gereja adalah masyarakat manusia.[38]
Tiap orang yang mengakui Tuhan Allah sebagai Rajanya, ia adalah rakyat kerajaan sorga. Oleh karena itu maka gereja atau jemaat Allah dapat dirumuskan sebagai umat Allah atau persekutuan rakyat kerajaan sorga, yang dengan perantaraan Injil dan sakramen kudus, telah dikumpulkan oleh Kristus dari segala bangsa, untuk dijadikan tubuhNya yang dikepalaiNya sendiri. Perbedaan antara kerajaan Sorga dan gereja dapat dikatakan demikian: kerajaan sorga adalah karya Allah yang besar dan mulia untuk memenuhi dan menyelesaikan janjiNya tentang keselamatan di dalam Kristus, sedang gereja adalah umat yang telah dipilih dan dipanggil oleh Tuhan Allah untuk mendapat bagian dari keselamatan yang terkandung di dalam kerajaan sorga. Berhubung dengan itu maka yang direalisasikan terlebih dahulu adalah kerajaan sorga, setelah itu gereja. Kerajaan sorga menjadi tujuan terakhir dari seluruh sejarah dunia ini. Kerajaan sorga tadi mendatangkan karunia sera hukuman, mencakup segala zaman. Sebaliknya gereja adalah umat, yang karena pilihan serta janji-janji Tuhan Allah di dalam Kristus dihubungkan dengan kejadian-kejadian yang besar serta mulia. Jadi dapat dikatakan, bahwa kerajaan sorga memang diungkapkan di dalam gereja. Sebab di dalam gereja itu diungkapkan bahwa kerajaan sorga memberi kelepasan serta keselamatan. Sekalipun demikian gereja tidak boleh diidentikkan dengan kerajaan sorga. Gereja adalah buah penyataan kerajaan sorga. Gereja adalah persekutuan para orang yang menanti-nantikan keselamatan yang terkandung di dalam kerajaan sorga, serta tempat para orang menerima karunia serta daya kuasa kerajaan sorga itu. Selain daripada itu gereja adalah juga persekutuan para orang yang terpanggil untuk menjadi sarana berkembangnya kerajaan sorga dengan perantaraan pengakuan mengenai Kristus, serta dengan perantaraan ketaatan mereka terhadap peraturan-peraturan dan undang-undang kerajaan, apalagi dengan perantaraan pemasyhuran Injil kerajaan itu kepada seluruh dunia. Demikianlah hubungan antara kerajaan sorga dan gereja.[39]
            Sifat-Sifat Gereja Sebagai Tubuh Kristus
1)      Gereja itu tidak kelihatan. Karena iman, yang melaluinya orang menjadi warga gereja, tidak kasat mata, maka gereja tidak dapat dilihat oleh mata manusia. Tetapi meskipun gereja itu tidak dapat dilihat manusia, ia pasti diketahui oleh Allah, karena Allah mengenal semua warga gereja. Allah mengenal mereka sebagai milik-Nya (2 Tim 2:19). Orang-orang Kristen sebagai pribadi mengetahui dirinya sebagai orang yang percaya (2 Kor 13:5; 2 Tim 1:12), karena itu ia juga mengetahui dirinya adalah bagian dari persekutuan orang beriman, yang disebut Gereja Tuhan.[40]
2)      Gereja adalah kudus. PB jelas menunjukkan, bahwa gereja adalah kudus. Menurut PB kekudusan jemaat bukanlah suatu hal yang abstrak, melainkan suatu kenyataan yang dihubungkan dengan apa yang telah terjadi dalam suatu perubahan yang radikal, yaitu perubahan dari hidup yang lama kepada hidup yang baru. Berdasarkan hal itu semua dapat dikatakan, bahwa keadaan gereja Tuhan adalah sebagai berikut (1) Gereja berdiri di atas dasar kenyataan kuasa kasih karunia Allah, (2) Gereja dipimpin pada suatu jalan di bawah pemerintahan Kristus yang membebaskannya, (3) jalan itu dengan jelas ditandai sebagai jalan hidup di dunia yang tanpa noda dan tanpa cacat.
3)      Gereja yang kelihatan. Iman, yang menjadikan seseorang sebagai warga gereja, pada hakekatnya tidak kelihatan (Luk 17:20-21), namun memiliki berbagai wujud. Semua orang percaya mengakui iman mereka: ”dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Rm 10:10; Mat 10:32). Mereka juga akan membuktikan imannya dengan hidup saleh, membiarkan terangnya bercahaya kepada orang lain, sehingga orang-orang melihat perbuatannya yang baik dan memuliakan Bapanya yang di sorga (Mat 5:16). Jadi, melalui kesaksian iman, kehidupan yang saleh, dan kehadiran dalam ibadah, orang-orang yang percaya tersebut dapat dikenal orang lain; hal ini menjadi bukti lahiriah dari iman mereka yang tidak kelihatan. Gereja yang tidak kelihatan adalah jumlah keseluruhan orang yang mempunyai iman yang benar di hatinya; gereja yang kelihatan adalah jumlah keseluruhan orang yang mengaku iman. Gereja yang tidak kelihatan tersembunyi di dalam gereja yang kelihatan.[41]
4)      Gereja adalah am. Pengakuan iman rasuli menyebutkan, bahwa gereja yang kudus itu adalah juga gereja yang am. Kata yang diterjemahkan dengan ”am” adalah katholikos, yang artinya: umum. Di dalam Alkitab kata ini tidak pernah  dihubungkan dengan gereja. Di luar Alkitab kata ini berarti: umum, sebagai lawan dari yang tersendiri, setempat, dsb. Dalam kata katholikos ini terkandung suatu gagasan tentang keluasan tertentu dan ruang. Semua gereja menganggap dirinya bersifat am. Oleh karena itu pada masa kini ada anggapan tentang perlunya mempunyai suatu penafsiran yang lebih kongkrit tentang arti ”am” itu. Sifat katholikos atau am itu adalah suatu panggilan. Bahwa gereja bersifat katholikos, hal itu bukan berarti, bahwa gereja menguasai dan mempengaruhi seluruh dunia dan segala bidang hidup. Gereja yang am bukan gereja yang kuasa dan pengaruhnya diakui oleh seluruh dunia di segala bidang kehidupan. Sifat am gereja mengandung pernyataan, bahwa keselamatan Allah bukanlah hanya diperuntukkan bagi gereja saja, akan tetapi diperuntukkan bagi seluruh dunia (Yoh 3:16), dan bahwa yang didamaikan dengan Allah oleh Kristus bukan hanya gereja saja melainkan dunia (2 Kor 5:19), dan bahwa Allah di dalam Kristus adalah Juruselamat dunia (1 Tim 4:10), dan bahwa yang didamaikan adalah segala sesuatu, baik yang ada di di bumi, maupun yang ada di sorga (Kol 1:20).[42] Berdasarkan uraian di atas sifat gereja yang am itu ada kaitannya dengan tugas gereja untuk memasyhurkan Injil. Gereja tidak terikat kepada suatu zaman saja, tetapi meliputi zaman yang lalu, sekarang dan zaman yang akan datang.
5)      Gereja adalah persekutuan orang kudus. Kata yang diterjamahkan dengan ”persekutuan orang kudus” adalah communio sanctorum. Dalam keterangan yang lebih kemudian biasanya ungkapan ini dipandang mempunyai arti pribadi, dan dianggap sebagai keterangan lebih lanjut tentang gereja. Gereja bukan terdiri dari orang-orang yang telah sempurna, melainkan masih terdiri dari orang-orang berdosa, sekalipun telah dikuduskan. Maka ungkapan ”persekutuan orang kudus” harus dipandang sebagai suatu tugas panggilan yang masih harus diperjuangkan. (Ingat kepada arti ungkapan am).[43]

II.                Refleksi Teologis
Orang percaya dipanggil Allah secara pribadi bukan untuk hidup secara individual. Seperti Abraham yang dipanggil untuk kemudian dijadikan suatu bangsa, menjadi Umat Allah, demikianlah orang percaya dipanggil dan dipersatukan untuk membentuk suatu komunitas. Kata gereja berasal dari bahasa Yunani ekklesia..[44] Oleh jemaat Kristen mula-mula kata ini dipakai untuk menyebut setiap perkumpulan (persekutuan) mereka. Ekklesia yang dari akar katanya dapat diartikan sebagai dipanggil keluar dari ikatan-ikatan lama, dikhususkan untuk menjadi berkat bagi semua orang.[45] Orang percaya sebagai ekklesia adalah orang-orang yang sama seperti Abraham yang dipanggil keluar dari duianya yang lana dan dikuduskan lalu kemudian menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Dalam PB jelas dikatakan bahwa alas dari gereja adalah Yesus Kristus, Tuhan ‘memanggil’ orang-orang dan mengumpulkan mereka menjadi satu persekutuan dan membentuk gereja.
Gereja adalah penguyuban umat beriman (PUBER), yaitu menguyubnya orang-orang yang menerima wahyu Allah dalam Yesus Kristus oleh ikatan Roh Kudus. Dalam penguyuban itu orang percaya menghayati imannya dengan akal budi (aspek intelektual/kognitif), dengan perasaan (afektif) dan dengan perbuatan (konatif).[46] Hal ini dapat menjelaskan bagaimana bisa terjadi banykanya denominasi gereja, bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam penghayatannya tentang imannya. Sehingga tidak boleh begitu saja menghakimi keberadaan gereja lain, setiap gereja yang menerima dan mewartakan Allah dan karyaNya dalam Kristus itulah gereja. Gereja memiliki sifat esa, apostolik, kudus dan am. Gereja yang esa (satu) menunjuk hakekat gereja sebagai satu-satunya penguyuban umat beriman, dan pada kesatuan yang terungkap dalam satu iman, satu sakramen dan hidup bersama, satu dalam pelayanan dan satu dalam perumusan pewartaan iman. Walaupun begitu kesatuan gereja adalah kesatuan yang dinamis, yaitu kesatuan yang tetap memberikan tempat positif bagi kepelbagaian. Maka perpecahan dan keragaman denominasi ini kiranya jangan hanya dipandang sebelah mata, sebab melalui banyaknya denominasi ini Allah pakaikan juga sebagai alatNya untuk menjangkau seluruh umat manusia untuk mewartakan kehendak Allah dan menyatakan kasih Kristus. Karena pada hakekatnya gereja yang beraneka ragam itu juga adalan bagian dari kesatuan di dalam Kristus, satu sebagai anak-anak Allah yang memiliki peran, tanggung jawab dan hak yang sama dalam melayani Allah.
            Dalam kaitan keesaan gereja sebagaimana rumusan tujuan PGI sebagai wadah Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia yakni Pewujudan Gereja Yang Esa di Indonesia, maka seharusnya gereja-gereja di Indonesia bersatu padu, secara bersama-sama mewartakan Kristus di tengah-tengah dunia, sebab pada dasarnya gereja sudah esa, tetapi belum diwujudnyatakan.[47] Ada beberapa bentuk (model) keesaan gereja yang selama ini telah diupayakan dalam gerakan kesatuan gereja,[48] yang paling anyar adalah unity as a solidarity (kesatuan sebagai solidaritas). Model ini menekankan pada aspek penyelesaian jurang-jurang pemisah kaya dan miskin, kaum bebas dan tertindas, termasuk juga jurang-jurang lain yang menyebabkan perpecahan gereja. Dalam hal ini penyeminar menyepakati bahwa di dalam Kristus keadaan yang baru, di mana segala perbedaan telah ditransformasi, maka dengan demikian kesatuan di dalam Kristus mengindikasikan bahwa keesaan gereja terletak pada solidaritas orang percaya terhadap kaum miskin dan tertindas. Karena pewujudan keesaan gereja haruslah tampak dalam hal-hal konkrit yang berdampak bagi kehidupan orang lain. Sidang Raya PGI 2009 berthemakan “Allah itu Baik Bagi Semua Orang”, tentunya hal ini mengimplikasikan peranan dan tanggungjawab orang percaya dalam mengimplementasikan kebaikan Allah bagi semua orang. Itu sebabnya pentingnya kesadaran akan kesatuan di dalam Kristus antara orang percaya, supaya dengan kesadaran itu mendorong orang percaya dan gereja bersatu padu dalam menyatakan solidaritas kepada kaum miskin dan tertindas yang menjadi realita kehidupan di Indonesia.
Melihat begitu banyaknya gereja dan persekutuan Kristen pada saat ini di Indonesia dan bahwa di antara mereka ada yang merasa gerejanya adalah “gereja Allah” sejati, “tubuh Kristus” sebenarnya, maka tidak berlebihan bila dikatakan bahwa ada konsep yang keliru mengenai pemahaman tentang gereja. Dalam penguraian mengenai makna “di dalam Kristus”, ada pandangan yang menekankan bahwa arti di dalam Kristus itu memiliki gagasan kolektif dan menyeluruh. Paulus menyebut-nyebut jemaat (gereja) di Yudea berada di dalam Kristus (Gal.1:22). Mereka yang memimpin jemaat sebagai pelayan-pelayan melakukannya di dalam Kristus (1 Kor.4:15). Ada satu tubuh dalam Kristus (Rm.12:5). Semua orang percaya telah menjadi satu dalam Kristus (Gal.3:26, 28). Orang Yahudi dan non Yahudi turut mengambil bagian dalam perjanjian yang sama dengan Yesus Kristus (Ef.3:6). Orang-orang kudus dan saudara-saudara seiman di Kolose bersama-sama berada di dalam Kristus (Kol.1:2).[49] Dari berbagai ungkapan ini tampak bahwa semua orang percaya pada saat yang sama disebut juga berada dalam Kristus. Semua orang percaya adalah gereja, ini berrarti semua orang percaya memiliki peran dan tanggungjawab yang sama sebagai gereja. Makna di dalam Kristus memiliki gambaran suatu masyarakat baru yang hidup di bawah kepemimpinan Yesus Kristus. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa gereja, sebagai kumpulan orang percaya bersatu di dalam Kristus dan menjadi masyarakat baru yang mana Kristus adalah kepalaNya. Dengan pemahaman yang demikian dapat dimengerti oleh gereja-gereja di Indonesia bahwa kesatuan orang percaya di dalam Kristus tampak dari keyakinan bersama bahwa Kristus adalah sebagai kepala gereja.

III.             Daftar Pustaka
……….., Himpunan Bahan Study Tentang Ekklesiologi Tanggal 4-26 Juli 1988 di Kampus STT INTIM Ujung Pandang, Persetia, 1988
Aritonang, Jan S., Belajar Memahami Sejarah di Tengah-tengah Realitas, Jakarta: Jurnal Info Media, 2007
Baker, David L., Kesatuan Dan Keanekaragaman Jemaat Kristus: Menuju Gereja Yang Ekumenikal Dan Evangelikal, dalam Membangun Tubuh Kristus: Duapuluh Lima Tahun dan Limapuluh Tahun Pdt. Dr. R. Radjagukguk, MST, ThM, Pematangsiantar: Yayasan STT HKBP, 1996
Caragounis, Chrys C., “בֵּן” in The New International Dictionary of Old Testament Theology and Exegesis Vol. 1, Willem A. Van Gemeren (gen.ed), Carlisle, Cumbria: Paternos Publishing, 1984
de Jonge, Christiaan, Menuju Keesaan Gereja, Jakarta: BPK-GM, 2003
Dister, Nico Syukur, Teologi Sistematika 2: Ekonomi Keselamatan, Yogyakarta: Kanisius, 2004
Feinberg, John S. (ed), Masih Relevankah Perjanjian Lama di Era Perjanjian Baru, Malang: Gandum Mas, 1996
Fulkos, Prancis, Ephession Commentary, Interversity Press Leicester, England: 1983
Gintings, E.P., Apakah Hukum Gereja, Bandung: Jurnal Info Media, 2009
Griffit, Michael, Gereja dalam Panggilannya Dewasa Ini, Jakarta: BPK-GM, 1995
Guthrie, Donald, Teologi Perjanjian Baru 2: Misi Kristen, Roh Kudus, Kehidupan Kristen, Jakarta: BPK-GM, 2009
Guthrie, Donald, Teologi Perjanjian Baru 3: Ekklesiologi, Eskatologi, Etika, Jakarta: BPK-GM, 2009
Hadiwijono, Harun, Iman Kristen, Jakarta: BPK-GM, 2009
Hort, F.J.A, “Gereja”, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I: A-L, J.D. Douglas (ed.), Jakarta: YKBK/OMF, 2008
Kaiser Jr, Walter C.., Teologi Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 2004
Karman, Yonky, Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama, Jakarta: BPK-GM, 2004
Kobong, Th., “Gereja Bukanlah Gedungnya, Gereja adalah Orangnya” dalam Kepemimpinan dan Pembinaan Warga Gereja, Sularso Sopater, Jakarta: BKP-GM, 1998
Kohler, Edward W.A., Intisari Ajaran Kristen, Pematangsiantar: Kolportase Pusat GKPI, 2010
Ladd, George Eldon, Teologi Perjanjian Baru: Jilid 1, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2002
Ladd, George Eldon, Teologi Perjanjian Baru: Jilid 2, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2002
Myers, Allen C. (ed), The Eerdmans Bible Dictionary, Grand Rapids, Michigan: Wm B. Eerdmans Publishing Company, 1987
Nanulaitta, Th. J., Suara Abdi Sabda, Medan: Abdi Sabda, 1996
Robinson, J.A.T, “Tubuh Kristus”, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II: M-Z, J.D. Douglas (ed), Jakara: YKBK/OMF, 2008
Strarhmann, λαος dalam Theological Dictionary of New Testament Vol.7, Gerhard Kittel (gen.ed), Grand Rapids, Michigan: Wm B. Eerdmans Publishing Company, 1967
Strathmann, H., Theological Dictionary Of The New Testament Volume IV, Michigan: WM. B. Eerdmans Publishing Company, 1993
Urban, Linwood, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, Jakarta: BPK-GM, 2003
van Niftrik, G.C. & B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini, Jakarta: BPK-GM, 2008
von Rad, Gerhard, Old Testament Theology Vol. 2, New York: Harper and Row Publisher, 1965
Wongso, Peter, Soteriologi, Malang: SAAT, 1992
Wright, J. Stafford, “Son” dalam The New International Dictionary of New Testament Theology Vol. 3, Colin Brown, Grand Rapids, Michigan: Wm. Eerdmans Publishing Company, 1969


[1] Kata kyriake sebagai sebutan bagi persekutuan para orang yang menjadi milik Tuhan, belum terdapat di dalam PB. Istilah ini baru dipakai pada zaman sesudah zaman para rasul, yaitu sebagai sebutan Gereja sebagai suatu lembaga dengan segala peraturannya. Di dalam PB kata yang dipakai untuk menyebutkan persekutuan para orang beriman adalah ekklesia, yang berarti rapat atau perkumpulan yang terdiri dari orang-orang yang dipanggil untuk berkumpul. Mereka berkumpul karena dipanggil atau dikumpulkan.
[2] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, Jakarta: BPK-GM, 2009, hlm. 362
[3] Ibid, hlm. 362-363. Ingat kepada tubuh dengan segala anggota-anggotanya: tubuh bukan terdiri dari tangan yang hidup, kaki yang hidup, dada yang hidup, dan sebagainya, yang kemudian dikaitkan yang satu dengan yang lain, tetapi seluruh tubuh mendapat hidup, dan oleh karena itu segala bagiannya hidup juga.
[4] F.J.A Hort, “Gereja”, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I: A-L, J.D. Douglas (ed.), Jakarta: YKBK/OMF, 2008, hlm. 334
[5] Paulus melihat pemahaman en-Kristo ditunjukkan dalam keseluruhan gereja, di mana itu adalah keseluruhan di dalam Kristus. Bukan hanya gereja tetapi semua anggota di dalam gereja itu adalah di dalam Kristus. Dan itu menunjuk kepada Kristus. Sebab di dalam, dijelaskan bahwa di dalam Kristus kita tidak ada perbedaan, semua orang adalah satu tubuh yang disebut sebagai tubuh Kristus (Gal 2:28). Ungkapan “di dalam Kristus” dimaksudkan untuk suatu perubahan radikal yang terjadi pada saat ketika seseorang menjadi Kristen. Akan tetapi “di dalam Kristus” jauh lebih berarti dari sekedar ungkapan lain bagi “Kristen”. Secara hidup ungkapan ini mengungkapkan pemikiran bahwa apa yang terjadi pada Kristus ada dampaknya bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Paulus juga menghubungkan di dalam Kristus adalah ciptaan baru (2 Kor 5:17). Ciptaan baru itu terjadi pada orang percaya berkat apa yang telah terjadi pada Kristus. Paulus juga tanpa ragu menghubungkan ciptaan baru ini dengan suatu peristiwa masa lalu, yaitu kematian dan kebangkitan Yesus yang sungguh-sungguh terjadi (2 Kor 5:15). Dalam kematian Kristus ia melihat lebih dari kematian Yesus yang manusiawi. Ia juga melihat di situ kematian ciptaan lama yang dikuasai kekuatan-kekuatan jahat, dan kedatangan suatu ciptaan baru yang di dalamnya segalanya mencakup asas-asas hidup yang baru, gagasan-gagasan moral yang baru, metode berpikir yang baru. Ia membawa  dampak kepada pribadi-pribadi, tetapi juga ada segi kebersamaan. Latar belakang “ciptaan baru di dalam Kristus” ini mempengaruhi makna ungkapan “di dalam Kristus”, sebab ciptaan baru ini menjadi terwujud hanya dalam mereka yang berada “di dalam Kristus”. Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 2: Misi Kristen, Roh Kudus, Kehidupan Kristen, Jakarta: BPK-GM, 2009, hlm. 303-304
[6] George Howard, Paul: Crisist in Galatia dikutip dalam John S. Feinberg (ed), Masih Relevankah Perjanjian Lama di Era Perjanjian Baru, Malang: Gandum Mas, 1996, hlm. 400
[7] J.A.T Robinson, “Tubuh Kristus”, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II: M-Z, J.D. Douglas (ed), Jakara: YKBK/OMF, 2008, 494
[8] E.P. Gintings, Apakah Hukum Gereja, Bandung: Jurnal Info Media, 2009, hlm. 15-16
[9] G.C. van Niftrik & B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini, Jakarta: BPK-GM, 2008, hlm. 358
[10] Prancis Fulkos, Ephession Commentary, Interversity Press Leicester, England: 1983, p. 108
[11] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 3: Ekklesiologi, Eskatologi, Etika, Jakarta: BPK-GM, 2009, hlm. 71. Penekanan yang kuat lainnya pada kesatuan Jemaat terdapat dalam catatan tentang Perjamuan Kudus dalam 1 Korintus 10:17 “Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu”. Gagasan mengenai pengambilan bagian bersama-sama dalam Perjamuan Kudus menekankan kesatuan dasar dari anggota-anggota Jemaat.
[12] Paulus mengembangkan ekklesiologi khusus, tanpa meninggalkan paham umat Allah. Paham khusus kristiani untuk mengungkapkan misteri gereja sebagaimana dikembangkan Paulus dalam Surat Efesus dan Kolose, yaitu “tubuh Kristus”. Paham tubuh (soma) ini dipakai Paulua bukan hanya dalam arti metaforis dan juga bukan hanya untuk menekankan  kesatuan para anggota satu sama lain. Dalam surat Efesus dan Kolose, Paulus memakai gagasan “tubuh” dalam arti yang sebenarnya dan dengan maksud untuk menggarisbawahi kesatuan kita dengan Kristus, dan bukan Cuma satu sama lain. Dalam Efesus dan Kolose, gereja disebut “tubuh Kristus” karena gereja hidup dari pada Kristus (Ef 4:15; 5:29-30; Kol 1:18-24; 2:19; 3:15).
[13] Ibid, hlm.71-72. Paulus menerapkan gambaran yang sama kepada gereja universal (Ef 2:19-22). Orang-orang bukan Yahudi yang telah percaya tak lagi dianggap terasing dari umat Allah, mereka telah tergabung menjadi anggota-anggota rumah tangga Allah yang benar, pada hakikatnya mereka telah menjadi bait yang dibangun di atas dasar Kristus, para rasul, dan nabi-nabi, yang bertumbuh menjadi bait suci dalam Tuhan. Di sini tampak bahwa tempat kediaman Allah itu ditemukan dalam gereja, bukan dalam Yudaisme. Kehadiran Allah telah beralih dari bait Yerusalem ke bait yang baru, gereja Kristen.
[14] Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika 2: Ekonomi Keselamatan, Yogyakarta: Kanisius, 2004, hlm. 221-222
[15] David L. Baker, Kesatuan Dan Keanekaragaman Jemaat Kristus: Menuju Gereja Yang Ekumenikal Dan Evangelikal, dalam Membangun Tubuh Kristus: Duapuluh Lima Tahun dan Limapuluh Tahun Pdt. Dr. R. Radjagukguk, MST, ThM, Pematangsiantar: Yayasan STT HKBP, 1996, hlm. 271
[16] Michael Griffit, Gereja dalam Panggilannya Dewasa Ini, Jakarta: BPK-GM, 1995, hlm. 6-7
[17] David L. Baker, Op. Cit., hlm. 272
[18] Linwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, Jakarta: BPK-GM, 2003, hlm. 413-414
[19] Peter Wongso, Soteriologi, Malang: SAAT, 1992, hlm. 46
[20] Donald Guthrie, Op. Cit, Teologi Perjanjian Baru, hlm. 73
[21] Gagasan ini diambil dari gambaran yang diberikan dalam PL mengenai tempat kediaman Allah di dalam ruang Rumah Allah yang paling dalam. Pada zaman dahulu Allah tinggal di antara umat-Nya pada posisi yang berjauhan karena kekudusan-Nya. Paulus tidak ingin para pembaca suratnya mempunyai sikap penghormatan yang lebih terhadap Rumah-Nya sekarang, walaupun ini telah dipindahkan dari bangunan yang kudus kepada hati manusia. Hal ini bukan hanya memperlihatkan adanya perkembangan dalam pemikiran, yaitu menggantikan hal yang bersifat lahiriah dengan sifat yang batiniah, tetapi juga memperlihatkan bahwa suatu bangunan yang khusus bagi kediaman Allah tidak dibutuhkan lagi. Jika orang percaya (dan sebagai akibatnya keseluruhan tubuh orang-orang percaya) adalah tempat kediaman Allah, maka lokasinya secara fisik tidak penting lagi. Betapapun bernilainya tempat kediaman Allah bagi Israel, namun Jemaat Kristen tidak memerlukan suatu tempat seperti itu. Gagasan tentang bangunan betul-betul menjadi kiasan dan karena itu bersifat rohani.
[22] Donald Guthrie, Op. Cit, Teologi Perjanjian Baru 3, hlm. 74-75
[23] Ibid, hlm. 78
[24] H. Strathmann, Theological Dictionary Of The New Testaement Volume IV, Michigan: WM. B. Eerdmans Publishing Company, 1993, p. 52
[25] George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru: Jilid 2, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2002, hlm. 327-328
[26] Th. J. Nanulaitta, Suara Abdi Sabda, Medan: Abdi Sabda, 1996, hlm. 34-36
                [27] Teologi Perjanjian Baru 2, Op.cit, hlm. 303-304
[28] Dalam bahasa Ibrani umat Allah disebut עַם (‘am), kecuali dalam Kej.26:11, Kel.9:15, ‘am tidak digunakan diluar bangsa Israel sebagai bangsa pilihan, sehingga ‘am dan Israel hampir sama artinya. Secara eksklusif ‘am hanya digunakan untuk bangsa Israel. Allah menyebut Israel sebagai umatNya, karena bangsa Israel adalah suatu kelompok sosial, etnik yang memiliki kesatuan dalam kelompok, dan secara khusus memiliki hubungan yang bagitu erat dengan Yahwe, sehingga disebut sebagai umatNya. Umat Allah dalam PL dipanggil berkumpul untuk menyembah Allah dan diberi perintah, dimulai dengan pemanggilan Abraham, Ishak dan Yakub disertai dengan janji berkat, perlindungan, keturunan dan tanah kepada mereka.Walter C. Kaiser Jr., Teologi Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 2004, hlm. 149 bnd. Gerhard von Rad, Old Testament Theology Vol. 2, New York: Harper and Row Publisher, 1965, p. 507. Dalam bahasa Yunani umat disebut dengan λαος yang artinya rakyat, massa, bangsa, suku-suku, umat (Mat.1:21; Luk. 1:28; Kis. 13:17). Istilah ini terdapat 142 kali dalam PB dan penekanannya adalah bangsa Israel. Penekanan kata laos dengan hubungannya dengan bangsa yang kudus menunjuk kepada persekutuan orang Kristen (Kis.15:14; Rm.9:25). Strarhmann, λαος dalam Theological Dictionary of New Testament Vol.7, Gerhard Kittel (gen.ed), Grand Rapids, Michigan: Wm B. Eerdmans Publishing Company, 1967, p. 51
                [29] Gagasan bahwa ada suatu umat Allah yang dikhususkan sering digunakan dalam PL mengenai bangsa Israel. Namun gagasan ini mempunyai sifat tersendiri yang membedakannya dari gagasan yang semata-mata bersifat politis atau rasial. Bangsa Israel harus dipandang dari sudut Teokrasi, dan merupakan suatu umat yang dipilih Allah dan yang dipelihara oleh Allah. Identitasnya senatiasa dipertahankan oleh asal mulanya dalam pilihan Ilahi, tidak pernah atas usahanya sendiri. Paulus juga memandang orang percaya sebagai umat Allah berdasarkan pemahamannya mengenai universalitas karya Kristus.
                [30] Teologi Perjanjian Baru 3, Op.cit, hlm. 77-78   
[31] Perlu dicatat bahwa peristilahan ini tidak serta merta mengartikan bahwa bangsa Israel yang asli bukan lagi umat Allah. Gereja tidaklah menggantikan Israel sebagai bangsa pilihan Allah, namun gereja sebagai Israel yang baru disini dipahami sebagai suatu komunitas orang yang percaya kepada bapa melalui Yesus Kristus yang memiliki peran yang sama ditengah-tengah dunia, namun tetap tidak boleh disamakan.  
[32] Yonky Karman, Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama, Jakarta: BPK-GM, 2004, hlm. 115
[33] Chrys C. Caragounis, “בֵּן” in The New International Dictionary of Old Testament Theology and Exegesis Vol. 1, Willem A. Van Gemeren (gen.ed), Carlisle, Cumbria: Paternos Publishing, 1984, pp. 676-677
[34] Guthrie memaparkan latar belakang yang jelas untuk hal ini, bahwa ada gagasan tentang Anak Allah yang dipakai secara berbeda-beda.
1.       Malaikat-malaikat disebut anak-anak Allah (Kej.6:1-4; Ayb.1:6; 2:1). Penggunaan ini sering disebut mitos, karena makhluk malaikat sering disebut mitos, tetapi tidak ada alasan untuk menolak keberadaan malaikat, dan penggambaran mereka sebagai anak-anak Allah menunjukkan sifat rohani mereka.
2.       Adam sebagai anak Allah karena ia manusia pertama yang dicipta Allah (Luk.3:38)
3.       Bangsa Israel sebagai anak-anak Allah (Ul.14:1-2; Yer.3:19-20; Hos.1:10). Hal ini memberi kesan yang lebih intim yakni bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Allah dan karena itu dibedakan dengan bangsa-bangsa lain di sekelilingnya. Dalam hal ini anak-anak Allah memiliki pengertian yang kolektif.
4.       Istilah anak-anak Allah yang berlaku untuk orang-orang secara individual kemudian dipakai untuk bangsa secara keseluruhan (Hos.11:1), “Dari Mesir Kupanggil anakKu itu”. Dalam hal ini bangsa Israel memiliki hubungan, yang kemudian dalam pemikiran orang-orang Kristen diwujudkan dalam diri pribadi Yesus Kristus (Mat.2:15).
5.       Anak Allah adalah seseorang yang dihunjuk dan diberi tugas secara khusus bagi raja yang teokratis. Dalam 2 Samuel 7:14 merupakan janji langsung bagi anak Daud bahwa Allah akan menjadi Bapanya dan dia akan menjadi anak Allah. Setelah Daud mati janji itu diperluas kepada keturunan-keturunannya (Bnd. Mzm.2:7).
Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 1, Op.cit., hlm. 339-340 Bnd. J. Stafford Wright, “Son” dalam The New International Dictionary of New Testament Theology Vol. 3, Colin Brown, Grand Rapids, Michigan: Wm. Eerdmans Publishing Company, 1969, p. 636
[35] J.D. Douglas (ed), Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid 2, Jakarta: YKBK-OMF, 2000, hlm. 591-592
            [36] Bnd. Allen C. Myers (ed), The Eerdmans Bible Dictionary, Grand Rapids, Michigan: Wm B. Eerdmans Publishing Company, 1987, p. 961-962
[37] Harun Hadiwijono, Op. Cit, hlm. 366
[38] R.N. Flew, Jesus His Church (1943) dikutip dalam George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru: Jilid 1, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2002, hlm. 145
[39] Harun Hadiwijono, Op. Cit, hlm. 369-370
[40] Edward W.A. Kohler, Intisari Ajaran Kristen, Pematangsiantar: Kolportase Pusat GKPI, 2010, hlm. 261
[41] Ibid., hlm. 266-268
[42] Harun Hadiwijono, Op. Cit, hlm. 378-380
[43] Ibid., hlm. 380-381
[44] Kata ini pada penggunaan umum bahasa Yunani sebelum Kristen dipakai untuk menyebut setiap pertemuan atau perkumpulan-perkumpulan yang lazim terjadi pada masaitu. Setiap ada pertemuan yang dilakukan oleh beberapa orang maka hal itu disebut ekklesia.
[45] Th. Kobong, “Gereja Bukanlah Gedungnya, Gereja adalah Orangnya” dalam Kepemimpinan dan Pembinaan Warga Gereja, Sularso Sopater, Jakarta: BKP-GM, 1998, hlm.60-61
[46] ……….., Himpunan Bahan Study Tentang Ekklesiologi Tanggal 4-26 Juli 1988 di Kampus STT INTIM Ujung Pandang, Persetia, 1988, hlm. 24
[47] Jan S. Aritonang, Belajar Memahami Sejarah di Tengah-tengah Realitas, Jakarta: Jurnal Info Media, 2007, hlm. 174
[48] 1. Organic or corporate unity (Edinburg, 1937), cita-cita model ini adalah kesatuan gereja sebagai suatu organisme, penekanan pada tugas panggilan yang harus dikerjakan bersama. 2. Concilliar Fellowship, penekanan terletak pada keesaan gereja yang tampak dalam keputusan-keputusan yang diambil bersama. 3. Reconciled Diversity, model ini berbicara mengenai keesaan gereja yang tampak. 4. Communion of communions, dicita-citakan suatu gereja yang esa dalam hal ajaran dan tindakan bersama yang tetap memperlihatkan keanekaragaman tipe-tipe gereja. 5. Unity as a solidarity, upaya mengatasi perbedaan-perbedaan jurang antara kaya dan miskin, kaum tertindas dan yang menindas. Christiaan de Jonge, Menuju Keesaan Gereja, Jakarta: BPK-GM, 2003, hlm. 139-140
[49] George Eldon Ladd, Op.Cit, Teologi Perjanjian Baru Jilid:2, hlm. 409

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar